Namun, menurut Adhamaski, Indonesia tidak boleh hanya berfokus memenuhi daftar persyaratan tanpa memahami alasan reformasi yang telah dilakukan belum cukup meyakinkan investor.
“Kita harus memahami mengapa reformasi tersebut belum cukup meyakinkan investor,” ujarnya.
Ia meyakini persoalan tersebut berkaitan dengan tata kelola pasar saham, bukan kebijakan fiskal, program prioritas pemerintah, maupun dampak El Nino.
Adhamaski juga mengingatkan agar Indonesia tidak sekadar menjadi pihak yang memenuhi setiap permintaan MSCI tanpa memahami persoalan mendasar yang ingin diselesaikan.
“Pemerintah membutuhkan negosiator ulung yang mampu membaca kepentingan para pihak, memahami keinginan investor global yang terafiliasi dengan MSCI, dan mengidentifikasi persoalan yang sesungguhnya perlu diselesaikan,” pungkasnya.