“Kejatuhan tajam ini merupakan cerminan krisis kepercayaan yang berpotensi memicu aksi jual berantai, di mana tekanan jual tidak lagi ditentukan murahnya valuasi, melainkan tingginya premi risiko,” ujar Hendra dalam analisisnya, Jumat (16/10/2026).
Secara teknikal, Hendra menyebut posisi IHSG di level 5.392 menempatkan bursa domestik dalam fase rentan setelah sempat mengalami penghentian perdagangan sementara.
Menurutnya, kegagalan indeks bertahan di area penopang terdekat berpotensi memicu koreksi lanjutan ketika tekanan jual kembali mendominasi pasar.
Hendra menuturkan, pergerakan IHSG selanjutnya akan bergantung pada respons pelaku pasar setelah penghentian perdagangan sementara berakhir serta kemampuan saham-saham berkapitalisasi besar menopang indeks.
“Setelah penurunan sedalam ini, level 5.318 menjadi area support terdekat yang perlu dicermati. Apabila ditembus secara meyakinkan, IHSG berisiko melanjutkan koreksi sebagai skenario risiko lanjutan,” tuturnya
(Feby Novalius)