Share

Asbisindo: Bank Syariah Belum 100% Syariah

Didik Purwanto, Koran SI · Selasa 27 April 2010 20:28 WIB
https: img.okezone.com content 2010 04 27 320 326991 SV4HC6Ggtc.jpg Foto: Corbis

JAKARTA - Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) menegaskan saat ini bank syariah belum menerapkan praktek syariah secara 100 persen. Hal itu disebabkan bank syariah masih menerapkan praktek riba dalam perilaku keuangannya.

"Bank syariah belum menerapkan praktek syariah secara 100 persen. Mereka baru melakukan satu dari tiga hal yang menyebabkan riba dalam praktek bank syariah," tegas Ketua Asbisindo Ahmad Riawan Amin selepas acara Diskusi Pengaruh Fatwa Bunga Bank Haram Terhadap Peningkatan Perbankan Syariah di FX Lifestyle Center Jakarta, Selasa (27/4/2010).

Hingga saat ini industri perbankan syariah hanya menerapkan 30 persen praktek yang berprinsip murni syariah. Adapun praktek syariah yang sudah dilakukan adalah menghapus riba yaitu bunga bank.

Secara fatwa, Majelis Ulama Indonesia hingga organisasi masyarakat tertentu sudah mengharamkan bunga bank tersebut. Sehingga di bank syariah memakai pola bagi hasil.

Namun, industri perbankan syariah juga masih menghadapi masalah lain yaitu riba sedang. Prakteknya  menggunakan fee money.

"Di sini uang dicetak dengan semau-maunya oleh regulator," katanya.

Kemudian ada riba besar ketika regulator menerapkan aturan Giro Wajib Minimum (GWM) yang dibebankan kepada bank-bank syariah. Menurut Amin, bank syariah tidak perlu dipaksa untuk menyalurkan kredit sehingga akan menerima insentif berupa pengurangan GWM.

Justru, pemerintah harus menumbuhkan dan menyiapkan sektor riil dalam menerima penyaluran kredit atau pembiayaan dari perbankan.

"GWM itu riba besar dan seharusnya mekanisme GWM bagi bank syariah diganti," jelasnya.

Dalam prakteknya, GWM memungkinkan bank konvensional menciptakan banyak uang. Pihaknya mencontohkan saat ada deposan menyetor Rp1 maka bank tersebut bisa memberikan kredit 19 kali lipat.

Dengan demikian, penerapan prinsip syariah di industri perbankan syariah nasional masih belum signifikan. Bahkan belum bisa disamaratakan dengan industri perbankan yang rata-rata penduduknya muslim seperti di Timur Tengah, Sudan, Malaysia dan lain-lain.

(css)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini