JAKARTA - Proyek pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) yang saat ini sedang berjalan diprediksi akan mengerek harga tanah. Khususnya dari Lebak Bulus, Jakarta Selatan, hingga Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat.
Kenaikannya diprediksi mulai dari 15 hingga 20 persen. Demikian disampaikan oleh Pengamat Properti dari Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda belum lama ini kepada Okezone.
"Akan naik, tapi sayang yang menikmati kenaikan itu bukan pemerintah, karena tanah di sana semuanya dikuasai oleh pengembang. Pemerintah tidak punya landbank di sana," ucapnya.
Menurutnya, seandainya MRT benar-benar bisa berfungsi dengan baik maka sektor yang berkembang tidak hanya sektor perumahan saja, komersial juga akan mengikuti. Bahkan, bila sebuah kawasan telah berubah menjadi kawasan komersial, harganya pasti akan berlipat-lipat.
Namun, Ali berharap proyek MRT ini tidak sampai bernasib seperti TransJakarta. Dulunya, dengan adanya jalur TransJak atau busway ini diperkirakan dapat menaikkan harga tanah sekitar 10 persen. Tetapi kenyataannya tidak seperti itu.
"Dulu di kawasan Pulo Gadung dilalui jalur bus Transjakarta harga rumah diprediksi akan naik, ternyata tidak. Karena busway tidak berfungsi dengan baik di sana," tutupnya.
(Rani Hardjanti)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.