JAKARTA – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) merevisi prospek peringkat PT Bank Muamalat Indonesia Tbk (BBMI) dari “stabil” menjadi “negatif”. Prospek negatif diberikan untuk mengantisipasi kemungkinan pelemahan lebih lanjut dari profil kualitas aset bank, karena tren pembiayaan dalam perhatian khusus (special mention loan/SML) yang meningkat.
Pembiayaan SML meningkat menjadi 22,7 persen di semester pertama 2015 dibandingkan di 2014 sebesar 15,5 persen, menempatkan tekanan lebih lanjut pada kualitas aset secara keseluruhan meskipun rasio pembiayaan bermasalah (NPF) membaik menjadi 4,9 persen dari 6,5 persen pada periode yang sama.
Sementara itu, peringkat BBMI dan Sukuk Subordinasi Berkelanjutan I Tahap I/2012 dan Tahap II/2013 ditegaskan pada “idA+” dan “idA”.
Berdasarkan keterangan tertulis, Jakarta, Senin (28/9/2015), strategi pembiayaan yang agresif dan kondisi ekonomi yang lebih sulit menyebabkan kualitas aset BBMI memburuk. Selain itu, BBMI memiliki eksposur yang tinggi pada sektor pertambangan yang kondisinya kurang baik saat ini.
Tantangan lainnya adalah tekanan pada tingkat profitabilitas bank, yang juga dipengaruhi oleh pembentukan beban pencadangan yang lebih tinggi. Manajemen BBMI telah menangani situasi ini dengan memperkuat kebijakan manajemen risiko dan membentuk divisi pemulihan aset untuk fokus pada proses restrukturisasi dan pemulihan pembiayaan bermasalah. Pefindo tidak mengharapkan NPF BBMI akan membaik secara signifikan karena upaya bank akan dihadapkan pada kondisi ekonomi yang kurang menguntungkan saat ini.
Pefindo dapat merevisi prospek kembali menjadi “stabil” jika BBMI mampu memperbaiki profil risiko keuangan dengan memperbaiki indikator kualitas aset secara berkesinambungan, didukung dengan peningkatkan profil keuangan secara keseluruhan. Di sisi lain, peringkat dapat diturunkan jika bank tidak dapat melakukan perbaikan yang berarti pada profil kualitas asetnya, sehingga memperlemah posisi risiko keuangan BBMI.
Peringkat tersebut mencerminkan dukungan yang kuat dari pemegang saham mayoritas dan posisi bisnis bank yang kuat dalam perbankan syariah. Akan tetapi, peringkat tersebut dibatasi oleh profil kualitas aset yang lemah dan tingkat profitabilitas yang di bawah rata-rata.
BBMI adalah bank syariah terbesar kedua di Indonesia, dengan sekitar empat juta nasabah pendanaan dan pembiayaan. BBMI dimiliki oleh Islamic Development Bank atau IDB (32,7 persen, peringkat AAA/stabil dari S&P), Boubyan Bank, Kuwait (22 persen), Atwill Holdings Limited, Saudi Arabia (17,9 persen), National Bank of Kuwait (8,5 persen, peringkat A+/stabil dari S&P), dan beberapa badan usaha dan individu lainnya. Boubyan Bank dimiliki oleh National Bank of Kuwait.
(Fakhri Rezy)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.