Kemudian, penghasilan keluarga Obama semakin meningkat. Dua pekan sebelum inagurasi presiden ke-44, Obama memerbaharui perjanjian penerbitan bukunya. Dia setuju untuk tidak menerbitkan buku non-fiksi selama bekerja di kantor kepresidenan. Tetapi, Obama menandatangani perjanjian senilai USD500 ribu (Rp6,6 miliar) untuk buku Dreams From My Father versi dewasa. Dia juga menyelesaikan skrip Of Thee I Sing: A Letter To My Daughters, yang dipublikasikan pada November 2010. Obama mendonasikan semua keuntungan pajak dari buku anak-anak untuk beasiswa bagi anak-anak dari tentara yang terluka atau tewas di medan perang.
Selama delapan tahun berikutnya, Keluarga Obama menghasilkan USD10,8 juta (Rp143 miliar). Obama melaporkan laba USD3,1 juta (Rp41 miliar) sebelum pajak dari gaji presiden (sekira USD392 ribu/Rp5 miliar per tahun). Sekitar USD120 ribu (Rp1,5 miliar) berasal dari bunga dan deviden dari kepemilikan investasi.
Menjadi dermawan
Setelah mendapat uang yang banyak, keluarga Obama justru menjadi dermawan. Sejak 2000-2004, mereka hanya mendonasikan dana sekira USD10,770 (Rp143 juta) dari pengembalian pajak saja. Nilai tersebut kurang dari 1% dari penghasilan mereka. Namun, pada 2005-2015, keluarga Obama memberikan sumbangan amal sebesar USD1,6 juta (Rp21,3 miliar), atau sekira 8% dari penghasilan.
Obama akan menghasilkan uang lebih banyak di masa mendatang. Bill dan Hillary Clinton saja bisa menghasilkan lebih dari USD240 juta (Rp3,1 triliun) selama 15 tahun setelah keluar dari Gedung Putih. Padahal, mereka masih terjerat utang saat meninggalkan istana kepresidenan. Pasangan Clinton bisa menghasilkan banyak uang dari hasil pidato dengan bayaran tinggi dan penerbitan buku. Demikian dilansir Qerja.
(Tuty Ocktaviany)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.