11 Kebijakan OJK Sangat Diperlukan untuk Pemulihan Ekonomi

Feby Novalius, Jurnalis · Rabu 05 Agustus 2020 20:05 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 05 20 2257617 11-kebijakan-ojk-sangat-diperlukan-untuk-pemulihan-ekonomi-XSQQddMlhv.jpg OJK (Okezone)

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah membuat 11 kebijakan seperti restrukturisasi kredit untuk mengoptimalkan proses pemulihan ekonomi Nasional. Meski sifatnya tidak bisa langsung menggerakan perekonomian, kebijakan OJK sangat diperlukan untuk pelaku usaha utamanya Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

Ekonom David Sumual mengatakan, pandemi virus corona membuat volume binis hingga aktivitas masyarakat menurut. Karena itu, diperlukan suatu kebijakan untuk membantu pelaku bisnis, seperti yang dikeluarkan oleh OJK.

 Baca juga: OJK Komitmen Pulikan Ekonomi dengan Cepat

"Memang diperlukan, karena banyak bisnis terutama UKM bermasalah ketika PSBB dan sampai juga bermasalah karena volume bisnis turun," tutur David, Rabu (5/8/2020).

Apalagi, lanjut David, ada rencana OJK untuk memperpanjang Peraturan OJK nomor 11 tahun 2020 terkait kelonggaran kredit. Dengan hal tersebut, para pelaku usaha, UMKM dan masyarakat bisa terbantu di tengah situasi yang tidak pasti akibat Covid-19.

 Baca juga: Kasus Positif Covid-19 Semakin Banyak, Ekonomi Makin Nyungsep

"OJK akan memperpanjang setahun lagi, itu sangat bantu dunia bisnis terutama UKM," tuturnya.(adv)

Meski demikian apa yang telah dikeluarkan OJK tidak serta merta mempercepat pemulihan ekonomi. Kebijakan OJK sama seperti BI, di mana pengaruh terhadap ekonomi tidak bisa langsung atau memerlukan waktu.

"Jadi beda dengan stimulus yang sifatnya langsung. Langsung belanja pemerintah, bagaimana menggerakan konsumsi lewat misalnya bansos. Tapi mungkin perlu dipikirkan kalau di negara lain bukan hanya bansos, tapi bisa juga cash transfer," tuturnya.

Sebagai informasi, kebijakan stimulus yang telah dikeluarkan OJK antara lain restrukturisasi kredit perbankan dan pembiayaan dari perusahaan pembiayaan, penundaan penerapan Basel III dan pelonggaran pemenuhan indikator likuiditas serta indikator permodalan untuk memberikan ruang bagi industri jasa keuangan.

Sejak diluncurkan 16 Maret 2020, program restrukturisasi kredit perbankan hingga 20 Juli telah mencapai nilai Rp784,36 triliun dari 6,73 juta debitur. Jumlah tersebut berasal dari restrukturisasi kredit untuk sektor UMKM yang mencapai Rp330,27 triliun berasal dari 5,38 juta debitur. Sedangkan untuk non UMKM, realisasi restrukturisasi kredit mencapai 1,34 juta debitur dengan nilai sebesar Rp454,09 triliun.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini