Ramalan IHSG 2021 dan Fakta Torehan Prestasi Bursa Efek Sepanjang 2020

Fadel Prayoga, Jurnalis · Minggu 03 Januari 2021 07:22 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 02 278 2337745 ramalan-ihsg-2021-dan-fakta-torehan-prestasi-bursa-efek-sepanjang-2020-MBqDgzyngU.jpg Prediksi IHSG Menguat. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Pada hari bursa terakhir di tahun 2020, IHSG ditutup melemah 0,95% di level 5.979,07. Perdagangan di sesi penutup 30 Desember 2020 ini berakhir di zona merah, yang disebabkan oleh aksi profit taking menjelang libur panjang tahun baru.

Lalu, bagaimana nasib IHSG pada 2021 nanti? Kemudian, apa saja torehan prestasi Bursa Efek Indonesia pada 2020? Okezone telah merangkum beberapa fakta menarik, Jakarta, Minggu (3/1/2021).

1. Investor Akan Memantau Perkembangan Vaksin

Research Analyst MNC Sekuritas Catherina Vincentia berpendapat investor ingin memantau perkembangan selanjutnya dari vaksin dan sentimen global lainnya, sehingga lebih memilih untuk reserving cash.

2. Sejumlah Hal yang Harus Diwaspadai Investor

Cathy menjelaskan, investor perlu mewaspadai hal-hal berikut dalam menyambut tahun 2021 mendatang, yaitu: 1) Distribusi dan efektivitas vaksin yang apabila ternyata di bawah ekspektasi, serta perkembangan mutasi virus COVID-19 yang lebih buruk dibandingkan dengan saat ini; 2) Realisasi pertumbuhan ekonomi dan kinerja emiten yang berada di bawah estimasi analis dan pasar; 3) Implementasi omnibus law; 4) Bencana alam yang disebabkan oleh perubahan iklim yang ekstrim, di mana hal ini menjadi faktor yang berada di luar kendali.

3. Beberapa Sektor yang Perlu Dicermati untuk Tahun 2021

Cathy memaparkan beberapa sektor yang perlu dicermati untuk tahun 2021 antara lain: 1) Perbankan masih menjadi motor penggerak bagi pertumbuhan IHSG dikarenakan bobot terhadap IHSG yang sangat dominan mencapai 38%; 2) Sektor Telekomunikasi dinilai positif seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat yang saat ini banyak menggunakan layanan online, serta banyaknya aksi M&A;

3) Sektor pertambangan logam terutama nikel yang menjadi proxy green economy yang sangat berkorelasi erat dengan pengembangan EV; 4) Sektor Perkebunan CPO, dimana di tengah masa pandemi saja, harga CPO mengalami peningkatan di level MYR3.600 per mt dan diyakininya dapat terus meningkat ke level RM4.000/mt di awal 2021.

4. Pasar Modal Indonesia Pada Tahun 2021 Akan Cenderung Sideways

Tim Riset MNC Sekuritas memprediksi pasar modal Indonesia pada tahun 2021 akan cenderung sideways mengingat sentimen vaksin yang sudah "priced-in" di pasar.

“Kami estimasikan IHSG akan berada pada level 6.320 yang merupakan base case, dan bull case berada pada level 7.221 untuk tahun 2021,” tutup Cathy.

5. Tutup Perdagangan 2020, IPO Indonesia Tertinggi se-Asean

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, nilai IPO pasar modal Indonesia mencapai Rp5,28 triliun dan harus terus ditingkatkan.

"Transaksi investor meningkat naik 4 kali," kata Airlangga Hartato dalam video virtual.

Kata dia, untuk perusahaan yang melakukan IPO sebanyak 51 dari yang ditargetkan 53. Hal ini tentu perolehan yang cukup menggembirakan dengan IPO di pasar modal Indonesia tertinggi di Asean.

"Ini tertinggi di perusahaan se-Asean. Transaksi investor meningkat naik 4 kali. Ini capaian yang luar biasa dan kepercayaan ritel pasar modal luar biasa dan ini modal kita untik ke depan," katanya.

6. Pandemi Covid-19 Tak Surutkan Kinerja Pasar Modal, Ini Bukti-buktinya

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menyebut, pandemi Covid-19 yang terjadi di Indonesia tidak menyurutkan semangat para pelaku pasar modal untuk kehilangan kesempatan memanfaatkan peluang.

Dia mencontohkan, di tengah arus dana keluar asing di pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih mampu menunjukkan adanya penguatan.

"Arus dana asing yang keluar yaitu Rp47,89 Triliun di pasar saham per 29 Desember kemarin dan Rp86,83 Triliun di pasar SBN per 28 Desember lalu mengalami penguatan didorong oleh investor domestik, termasuk investor ritel," ujar Wimboh dalam acara Penutupan Perdagangan BEI Tahun 2020 secara Virtual, Rabu (30/12/2020).

Dari sisi demand, Wimboh mengatakan bahwa tahun 2020 menjadi tahun kebangkitan bagi investor ritel domestik, mengingat investor domestik khususnya investor ritel yang semakin mendominasi transaksi saham.

Selain itu, pasar modal nasional juga tercatat semakin likuid dan dalam, tercermin dari naiknya rata-rata frekuensi perdagangan menjadi yang tertinggi di Asean serta kenaikan jumlah investor pasar modal dan kuatnya investor domestik.

"Kenaikan jumlah investor pasar modal menjadi 3,87 juta investor atau naik 56% dibandingkan tahun lalu dan semakin solidnya dominasi investor ritel," kata dia.

Di sisi supply, antusiasme korporasi untuk menggalang dana melalui penawaran umum ternyata masih terjaga di masa pandemi, dimana terdapat 53 emiten baru sepanjang 2020.

"Dari jumlah tersebut 51 perusahaan telah tercatat di bursa dan hal ini menjadi yang tertinggi di Asean. Sementara, total penghimpunan dana melalui penawaran umum di tahun 2020 telah mencapai Rp118,7 Triliun," ucapnya.

7. Pengembangan Pasar Modal Syariah Jadi Torehan Manis BEI Tahun 2020

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Inarno Djajadi menyatakan BEI bersama OJK juga telah menyelesaikan roadmap pasar modal syariah untuk lima tahun ke depan sebagai upaya penguatan dan pendalaman pasar modal berbasis syariah di Indonesia.

"Alhamdulillah upaya pengembangan pasar modal syariah di Indonesia turut diapresiasi oleh pasar global ditandai dengan pengukuhan BEI sbg The Best Islamic Capital Market 2020 dari Global Islamic Finance Awards," kata dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini