Harga Minyak Anjlok 5,8%, Brent Dijual di Bawah USD80/Barel

Antara, Jurnalis · Sabtu 20 November 2021 08:12 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 20 320 2504681 harga-minyak-anjlok-5-8-brent-dijual-di-bawah-usd80-barel-WzS82N1S0e.jpg Harga Minyak Anjlok di Bawah USD80/Barel. (Foto: Okezone.com/Pertamina)

NEW YORK - Harga minyak turun sekitar 3% menjadi di bawah USD80 per barel pada akhir perdagangan Jumat. Harga minyak tertekan melonjaknya kasus Covid-19 di Eropa, sehingga mengancam pemulihan ekonomi.

Sementara investor juga mempertimbangkan potensi pelepasan cadangan minyak oleh ekonomi-ekonomi utama untuk mendinginkan harga.

Harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Januari anjlok USD2,35 atau 2,9%, menjadi USD78,89 per barel. Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Desember merosot USD2,91 atau 3,6% menjadi USD76,10 per barel pada hari terakhir kontrak bulan depan.

Baca Juga: Harga Minyak Galau Imbas Lonjakan Kasus Covid-19

Sementara itu Harga minyak WTI untuk pengiriman Januari kehilangan sekitar 2,65% atau 3,4% menjadi berakhir di USD75,78 per barel.

Untuk minggu ini patokan harga minyak mentah AS turun 5,8%, sementara Brent turun 4,0% berdasarkan kontrak bulan depan. Kedua kontrak acuan melemah untuk minggu keempat berturut-turut, untuk pertama kalinya sejak Maret 2020.

"Ketakutan akan hal yang tidak diketahui membebani sentimen pasar," kata Analis Senior Price Futures, Phil Flynn, di Chicago, dikutip dari Antara, Sabtu (20/11/2021).

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Kembali Mahal

"Kekhawatirannya adalah bahwa kita akan mendapatkan semacam pelepasan (cadangan minyak) terkoordinasi selama Liburan Thanksgiving minggu depan, ketika volume biasanya rendah dan pergerakan dramatis telah terjadi," sambungnnya.

Austria menjadi negara pertama di Eropa barat yang memberlakukan kembali penguncian penuh Virus Corona musim gugur ini, untuk mengatasi gelombang baru infeksi COVID-19 di seluruh wilayah. Jerman, ekonomi terbesar Eropa, memperingatkan mungkin juga harus pindah ke penguncian penuh.

Harga minyak Brent telah melonjak hampir 60 persen tahun ini karena ekonomi bangkit kembali dari pandemi dan karena Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC+, hanya meningkatkan produksi secara bertahap.

"Pasar (minyak) secara fundamental masih dalam posisi yang baik tetapi penguncian sekarang menjadi risiko yang jelas ... jika negara lain mengikuti jejak Austria," Analis Pasar OANDA, Craig Erlam, mengatakan dalam sebuah catatan.

Pemerintah-pemerintah dari beberapa ekonomi terbesar dunia sedang mempertimbangkan untuk melepaskan minyak dari cadangan minyak strategis (SPR) menyusul permintaan dari Amerika Serikat, yang pertama kali dilaporkan oleh Reuters, untuk langkah terkoordinasi mendinginkan harga.

Gedung Putih pada Jumat (19/11/2021) menekan kelompok produsen OPEC lagi untuk mempertahankan pasokan global yang memadai, beberapa hari setelah diskusi AS dengan beberapa ekonomi terbesar dunia mengenai potensi pelepasan minyak dari cadangan strategis untuk memadamkan harga energi yang tinggi.

Spekulasi tentang rilis SPR AS telah mendorong harga minyak turun sekitar USD4 per barel dalam beberapa pekan terakhir dan pasokan tambahan hingga 100 juta barel sudah diperkirakan, kata analis minyak Goldman Sachs dalam sebuah catatan.

Akibatnya, dikatakan setiap pelepasan (cadangan minyak) "hanya akan memberikan perbaikan jangka pendek untuk defisit struktural."

OPEC+ tetap berpegang pada kebijakan kenaikan produksi minyak secara bertahap bahkan ketika harga melonjak, dengan mengatakan pihaknya memperkirakan pasokan akan melebihi permintaan pada bulan-bulan pertama tahun 2022.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini