JAKARTA – Penggunaan mesin perahu listrik berpotensi menekan biaya operasional nelayan skala kecil hingga 90%. Berdasarkan implementasi awal di Desa Kusamba, Kabupaten Klungkung, Bali, nelayan yang menggunakan mesin listrik dapat mengeluarkan biaya sekitar Rp10.000 per perjalanan, jauh lebih rendah dibandingkan mesin konvensional yang membutuhkan biaya bahan bakar minyak (BBM) sekitar Rp100.000 per perjalanan.
Direktur sekaligus Co-founder Azura Indonesia, Nadea Nabila, mengatakan bahwa penggunaan teknologi energi bersih perlu memberikan manfaat ekonomi secara langsung bagi nelayan, terutama di tengah tantangan biaya operasional.
“Bagi nelayan skala kecil, transisi energi bukan hanya tentang mengganti mesin berbahan bakar minyak dengan mesin listrik, tetapi juga tentang bagaimana teknologi dapat membuat biaya melaut lebih terjangkau dan usaha mereka lebih tangguh,” ujar Nadea, Selasa (20/10/2026).
Mesin perahu menggunakan baterai yang dapat diisi ulang melalui stasiun pengisian daya berbasis pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Sistem ini memungkinkan nelayan memanfaatkan energi terbarukan untuk mendukung aktivitas penangkapan ikan.
Berdasarkan perhitungan, biaya penggunaan mesin listrik mencapai Rp10.000 untuk tiga baterai dalam satu perjalanan. Sementara itu, biaya operasional mesin konvensional diperkirakan sebesar Rp100.000 per perjalanan. Perbandingan tersebut menunjukkan potensi penghematan hingga 90%, meski besarnya penghematan dapat bergantung pada kondisi dan kebutuhan operasional masing-masing nelayan.
Selain menekan biaya, mesin listrik juga tidak menghasilkan emisi gas buang langsung dari pembakaran BBM saat beroperasi. Suara mesin yang lebih rendah turut menjadi salah satu manfaat yang dirasakan nelayan.
Nengah Sudiarta (51), nelayan asal Desa Kusamba, mengatakan penggunaan mesin listrik membantunya tetap melaut ketika memasuki musim paceklik.
“Sejak menggunakan mesin listrik, saya tetap melaut meski musim paceklik. Karena saya tidak perlu khawatir dengan biaya BBM. Mesinnya juga tidak bising dan membuat telinga sakit saat melaut,” kata Nengah.
Perahu mesin listrik ini rencananya akan diperluas penerapannya ke berbagai wilayah perikanan di Indonesia. Dalam jangka panjang, organisasi tersebut menargetkan distribusi hingga 10.000 unit mesin perahu listrik.
Perluasan penggunaan teknologi ini diharapkan dapat membantu nelayan menekan biaya operasional dan mengurangi ketergantungan pada BBM. Namun, penerapannya secara lebih luas tetap membutuhkan dukungan infrastruktur pengisian daya serta perhitungan efisiensi yang sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah perikanan.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.