Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Dana Asing Kabur akibat Sentimen MSCI, BI Jamin Likuiditas dan Nilai Tukar Rupiah 

Rohman Wibowo , Jurnalis-Jum'at, 23 Oktober 2026 |13:34 WIB
Dana Asing Kabur akibat Sentimen MSCI, BI Jamin Likuiditas dan Nilai Tukar Rupiah 
Dana Asing Kabur akibat Sentimen MSCI, BI Jamin Likuiditas dan Nilai Tukar Rupiah (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) merespons cepat tekanan arus modal keluar (capital outflow) yang dipicu oleh sentimen rilis consultative paper Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait usulan peninjauan kategori pasar saham Indonesia ke level standalone market. 

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia Erwin Gunawan Hutapea menekankan upaya otoritas moneter untuk memastikan ketersediaan likuiditas rupiah tetap memadai serta menyiagakan instrumen operasi pasar demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari potensi gejolak berlebih.

Rencana peninjauan klasifikasi indeks saham domestik oleh MSCI tersebut memicu pelepasan portofolio aset oleh sebagian investor asing dari pasar keuangan tanah air. Bank sentral mencatat tekanan jual tidak hanya terkonsentrasi di bursa efek, melainkan meluas ke instrumen surat utang negara dan sekuritas moneter.

"Sejak rilis consultative paper pada hari Jumat, kami mengamati outflow tidak hanya terjadi di pasar saham, tapi SBN dan SRBI juga mengalami arus keluar," ujar Erwin dalam diskusi media di kantor BI, Jakarta, Jumat (23/10/2026).

Menghadapi tekanan pelepasan aset tersebut, BI menyiapkan dua lapis respons strategis. Pada lapis pertama, bank sentral menjamin pemenuhan pasokan likuiditas rupiah agar seluruh penyelesaian transaksi perdagangan di pasar finansial tetap berjalan lancar tanpa mengalami kendala likuiditas.

Selain mengamankan ketersediaan dana di pasar uang, otoritas moneter bersiap meredam rambatan pelepasan aset asing terhadap stabilitas nilai tukar. BI membiarkan mekanisme pasar bekerja normal jika pasokan dan permintaan valuta asing berimbang, namun siap melakukan intervensi bila pergerakan kurs melampaui batas kewajaran.

"Kalau supply dan demand ketemu di pasar, ada yang mau beli dan jual valas, be it. Namun, seandainya rambatan outflow memicu volatilitas nilai tukar di luar toleransi, kami akan respons dengan operasi moneter," tutur Erwin.

 

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement