Foto: Koran SI
JAKARTA - Luar biasa. Tidak ada kata lain yang dapat menggambarkan kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) sepanjang tahun ini. Bagaimana tidak, IHSG mampu meroket lebih dari 85 persen ke level 2.500.
Prestasi IHSG hanya kalah dari indeks Shenzhen, China, yang naik 121 persen. Bahkan, jika dihitung dari posisi terendah di level 1.100 pada November 2008, IHSG berarti telah naik 127 persen.Kuatnya fundamental perekonomian dalam negeri membuat IHSG mampu keluar dari tekanan krisis global sejak kuartal I/2009. Pada akhir Maret, IHSG sudah berada di level 1.500 dan terus melambung hingga 2.500 pada Oktober 2009.
Kenaikan tajam IHSG tentu saja turut mendongkrak kapitalisasi pasar bursa Indonesia. Per 1 Desember 2009, kapitalisasi pasar BEI tercatat Rp1.991 triliun, naik sekitar 80 persen dibandingkan posisi awal tahun di kisaran Rp1.100 triliun. Kendati demikian, jika diperhatikan, laju IHSG cenderung melambat di paruh kedua tahun ini. Bahkan, sejak kuartal IV/2009, IHSG seolah jalan di tempat dan sulit beranjak dari kisaran 2.400– 2.500.
Sebenarnya, dengan datadata pertumbuhan ekonomi yang cukup baik dan kinerja emiten yang tetap solid,IHSG berpeluang melampaui level tersebut di tahun ini. Sayang suhu politik dalam negeri pascapemilu yang terus memanas memberikan dampak negatif terhadap perdagangan saham. Ini terlihat dari nilai transaksi yang semakin susut dan gerak indeks yang relatif stagnan.
"Kalau kondisi politik tetap kondusif, IHSG semestinya bisa ditutup pada level 2.600 pada akhir 2009,” ujar pengamat pasar modal Wim Alfatih. Menurut dia, sentimen politik yang cukup kencang seperti perseteruan KPK-Polri yang berlanjut pada kasus Bank Century direspons negatif pelaku pasar. Semangat tinggi menyambut hari yang cerah seiring pemulihan ekonomi global sedikit menyurut.
Sebagian investor memilih mengamankan investasinya sebagai antisipasi jika stabilitas politik semakin memburuk. Ketua Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Haryajid Ramelan menilai, IHSG berpeluang mencatatkan rekor tertinggi di 2010, ditopang oleh kuatnya pertumbuhan dalam negeri dan semakin pulihnya perekonomian global. Namun, sejumlah ancaman juga mengintai dalam jarak yang tidak terlalu jauh.
Salah satunya adalah risiko akibat politisasi kasus Bank Century. Memanasnya persoalan ini akan memberi dampak keraguan investor terhadap pasar modal dan investasi dalam negeri . Terutama investor asing yang dengan mudah akan melarikan dananya ke luar jika menilai stabilitas politik dalam negeri semakin mengkhawatirkan.
"Itu yang terjadi pada Thailand, Malaysia, dan Filipina. Karena tidak nyaman, investor banyak melarikan dananya ke bursa Indonesia,”ujarnya. Secara pribadi, dia menilai kasus Century sebenarnya bukan persoalan besar. Dampaknya relatif kecil bila dibandingkan dengan sentimen pemulihan ekonomi global.Namun,apabila kasus ini tidak juga terselesaikan bahkan meluas hingga mengganggu stabilitas keamanan dan politik, maka akan berpengaruh pada gerak investasi.
Jika begini,maka target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,5 persen pada 2010 terancam tidak tercapai. Ekonom BNI Ryan Kiryanto mengatakan, saat ini banyak investor asing yang mulai khawatir dengan polemik kasus Bank Century. Mereka yang semula optimistis dengan prospek investasi di Indonesia berbalik meragukannya."Saat saya melakukan roadshow ke luar negeri beberapa bulan lalu, tidak ada hedge fund yang menanyakan masalah Century.
Namun belum lama ini, pertanyaan mengenai kasus Century banyak dilontarkan,” ungkapnya. Ryan berharap agar kekhawatiran ini menjadi perhatian banyak pihak. Jangan sampai keinginan politik mengalahkan perekonomian bangsa yang dalam kondisi baik.Terutama bila mengingat bagaimana ambruknya perekonomian Indonesia saat krisis 1998.
"Perlu kedewasaan elit-elit politik agar mampu bersama-sama memajukan bangsa,”pesannya. Dia menambahkan, meski sinyal pemulihan global semakin terang,bukan berarti tidak ada lagi ancaman dari luar. Salah satunya adalah efek dari krisis Dubai World, yang dikhawatirkan membuat harga minyak dunia kembali jatuh. "Ini yang masih belum bisa diperkirakan. Jangan sampai ini meluas dan menjadi subprime mortgatejilid dua,”kata Ryan.
Prospek Tetap Cerah
Risiko politik dalam negeri memang masih membayangi dan menjadi kekhawatiran pelaku pasar saat ini.Namun, optimisme terhadap prospek pasar modal di 2010 tetap tinggi. Wim menilai, sentimen Century tidak akan berlangsung lama. "Seperti kasus KPK-Polri, akan ada pemecahan dengan deal-deal tertentu atau winwin solution pada kasus Century,” ujarnya.
Analis dari Bhakti Securities Budi Ruseno mengatakan, kondisi ekonomi global dan regional yang mulai tumbuh akan memberi dampak positif bagi pasar modal Indonesia. Data terakhir perekonomian AS, mengisyaratkan adanya perbaikan besar-besaran, yang menuntun pemulihan ekonomi global. Menurut Departemen Tenaga Kerja AS, klaim pengangguran pada pekan yang berakhir pada 19 Desember 2009, turun hingga menjadi 452.000 dari pekan sebelumnya sebanyak 480.000.
Departemen Perdagangan AS juga melaporkan permintaan barang-barang tahan lama naik 0,2 persen pada November, berkat lonjakan permintaan komputer dan barang-barang elektronik."Ini semakin menumbuhkan optimisme pemulihan ekonomi berada dalam jalurnya,”kata Budi. Sementara itu, dari dalam negeri, pemerintah juga akan mulai merealisasikan sejumlah proyek infrastruktur guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional.
Sehingga dalam perhitungan normal, IHSG diperkirakan bisa mencapai level 2.800–2.900. Menurut Budi, ini dapat terwujud apabila proyeksi pertumbuhan ekonomi 2010 tercapai. Kondisi-kondisi dalam negeri yang akan menuntun pertumbuhan pasar modal di 2010 antara lain suku bunga deposito yang berada di kisaran 5–7 persen, lalu inflasi yang di level 5 persen, dan tingkat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,5 persen.
"Pertumbuhan juga harus didukung oleh peningkatan aktivitas konsumsi rumah tangga serta investasi,” imbuh dia. Faktor lain yang akan mengerek pergerakan IHSG naik adalah kenaikan harga minyak dan komoditas dunia. Sejak anjloknya harga minyak mentah dunia ke level USD45 per barel di 2008, saham sektor pertambangan dan komoditas terus tertekan.
Sektor pertambangan tahun ini sudah mulai membaik seiring kenaikan harga minyak ke kisaran USD70–80 per barel.Namun,harga komoditas lain masih tertekan."Harga komoditas diperkirakan membaik pada 2010. Itu terlihat dari peningkatan harga di kuartal akhir 2009,”jelas Budi. Berdasarkan pertimbangan tersebut, Budi memperkirakan saham-saham di sektor perbankan, pertambangan, perkebunan, serta infrastruktur akan menjadi pilihan di 2010.
Untuk saham pertambangan, Budi menilai saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Pertambangan Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA), dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) berpotensi menguat. Sementara, saham perbankan yang patut dipertimbangkan pda depan antara lain PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA),dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).
Kendati demikian, Budi mengingatkan bahwa IHSG pada kuartal I/2010 mungkin bergerak lambat karena banyak investor bersikap wait and see terhadap kondisi politik dalam negeri.Karena itu dia menyarankan, awal tahun depan sebaiknya investor bermain dalam pola jangka pendek untuk memaksimalkan keuntungan."Kalau semester II/2010 saya rasa kondisinya akan lebih baik sehingga indeks akan naik cukup signifikan,” pungkasnya.
(Juni Triyanto /Koran SI/css)