Foto: Koran SI
JAKARTA - Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) dalam jangka pendek berpotensi mengalami koreksi. Namun, koreksi ini hanya secara teknikal yang wajar.
"Dalam jangka pendek emerging market dan juga global market kondisinya overheating dan akan mengalami pelemahan," kata analis saham David Cornelius kepada okezone di Jakarta, Senin (1/2/2010).
Dijelaskannya, untuk saat ini tentu para pelaku pasar sedang berusaha mencari dan menunggu serta memanfaatkan kesempatan dari momentum untuk mengambil keuntungan parsial (partial profit taking) dari tren naik dari indeks. "Jadi jangan terlalu surprise ketika market saat ini sedang mengarah ke arah pelemahan normal (technical correction) hanya karena memanfaatkan tren naik yang mulai melemah," paparnya.
Menurut David, yang menjadi pemicu dari koreksi ini adalah sentimen negatif yang berasal dari regional, antara lain adalah bursa AS dan global yang kembali terkoreksi terutama oleh rencana Presiden Amerika Serikat (AS) untuk memperketat aktivitas lembaga keuangan dan perbankan.
"Pengetatan aturan tersebut tentu akan menurunkan ekspektasi laba dan memperlambat pemulihan ekonomi," ujarnya.
Selain itu indeks manufaktur dan produksi sektor industri Jepang yang lebih rendah dari ekspektasi, sementara angka existing home sales turun 16,7 persen (mount on mount/MoM) dan angka new home sales turun 7.6 persen (MoM).
Pertumbuhan ekonomi Korea Selatan yang 0,2 persen (quartal in quartal/QoQ) sepanjang kuartal IV-2009 lebih rendah dari ekspektasi, serta durable goods orders dan angka pengangguran dirilis di bawah ekspektasi. Di saat yang sama ada masalah hutang Yunani, Portugal, dan Irlandia.
"Di sisi lain beberapa data ekonomi yang diumumkan menunjukkan perbaikan namun dalam persentase yang lebih rendah dari ekspektasi pasar, sehingga overall masih memberikan sentimen yang negatif bagi investor dalam jangka pendek," jelasnya.
Walau demikian, David menegaskan hal itu tidak akan menciptakan pelemahan secara mendalam dan sistematis. "Apalagi IHSG adalah salah satu bursa di emerging market yang paling atraktif dan berhasil menunjukkan persistensi di tengah fase resesi dan recovery, dan masih akan ada capital inflow dalam jangka panjang yang akan berposisi pada emerging market selama The Fed masih mempertahankan suku bunga rendahnya," papar David.
Faktor yang menjadi sentimen positif bagi IHSG tersebut adalah Fitch Ratings yang menaikkan peringkat (upgrade rating) utang pemerintah RI dan juga peringkat perbankan dari BB menjadi BB+.
"Kenaikan peringkat ini mencerminkan baiknya performa dan ketahanan keuangan Indonesia serta membuat rupiah kembali menguat ke Rp9.300, sehingga mencerminkan persepsi risiko investasi yang menurun," paparnya.
Selain itu, pencalonan kembali Ben Bernanke sebagai Gubernur The Fed untuk periode 2010-2014 menjadi angin segar. Dimana periode kedua bagi Bernanke ini untuk memulihkan pasar kredit dan mempercepat fase pemulihan ekonomi, efek ekspansi yang dibangun dari kebijakan moneter masih diperlukan untuk mendorong kestabilan pemulihan ekonomi AS.
Ditambah lagi dengan The Fed yang mempertahankan kebijakan suku bunga rendahnya di 0-0,25 persen karena ekspektasi inflasi yang masih stabil, di saat yang sama The Fed akan mulai mengurangi pembelian atas surat utang pemerintah dan obligasi berbasis mortgage, dan akan mengakhiri program pembelian tersebut pada Maret 2010.
David mengatakan kisaran support resistance untuk perdagangan awal pekan ini, Senin (1/2/1010) akan berada di 2.575-2.623. Sementara untuk pekan ini, ia menuturkan support resistance indeks akan berada di 2.564-2.642.
Dengan pilihan saham antara lain PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bakrie Development Tbk (ELTY), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM).
Sementara itu, analisa dari Trimegah Securities menyebutkan, IHSG kembali gagal bertahan di dalam tren naiknya mengingat sentimen negatif regional kembali menguat. "Pelaku pasar mulai mengkhawatirkan dampak dari utang negara Eropa terhadap pemulihan ekonomi global," jelas Trimegah.
IHSG diperkirakan masih akan berkonsolidasi di kisaran 2.560-2.625. Hal ini mengingat sebagian besar saham unggulan berada di area supportnya membuka peluang untuk teknikal rebound.
Sebelumnya, pada perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (29/1/2010), IHSG ditutup turun tipis 8,76 poin atau 0,33 persen ke posisi 2.610,8.
Volume perdagangan tercatat 2,974 miliar lembar saham senilai Rp2,78 triliun dengan saham yang ditutup menguat sebanyak 49 jenis saham, melemah 131 jenis saham, dan stagnan 73 jenis saham. Sejumlah saham menjadi faktor pendukung pelemahan IHSG kali ini, di mana hanya saham dari sektor keuangan saja yang terlihat menguat tipis sebesar 2,040 poin.
(css)