Ilustrasi Baja. Foto: Corbis
JAKARTA - Kenaikan harga bijih besi (iron ore) yang merupakan bahan baku industri baja, berdampak pada harga baja dalam negeri yang mulai merangkak naik pada April 2010.
Direktur Pemasaran PT Krakatau Steel (KS) Irvan Kamal Hakim mengatakan, tren kenaikan harga baja baik internasional maupun dalam negeri akan terjadi hingga Juni 2010. Harga baja internasional diprediksiikan akan berada pada kisaran USD750 hingga USD900 ton untuk HRC (baja canai panas/hot rolled atau baja pelat hitam).
KS, kata dia, sudah satu minggu menghentikan transaksi. Karena,pihaknya ingin mengetahui ke arah mana kenaikan dari harga bahan baku. Di antaranya, lanjut dia, yaitu bijih besi dan scrap atau besi tua. Untuk biji besi, menurutnya, diperkirakan naik hingga 70 persen pada 2010.
"KS sebagai produsen HRC, menaikkan harga jual sejalan dengan estimasi kenaikan iron ore, karena kita menggunakan iron ore pellet yang bentuknya seperti kelereng. Akibatnya, kita juga harus perhitungkan harga baja di pasar dalam negeri. Jadi penyebabnya cost push, sehingga kita menaikkan harga jual," ungkapnya.
Selain itu peningkatan harga baja juga ditopang oleh meningkatnya permintaan dunia dan China. "China itu, setiap Imlek tidak memproduksi dan tidak ada permintaan," tutur Irvan.
Kenaikan harga baja, Irvan mengungkapkan, juga didorong oleh naiknya harga minyak dunia, karena dengan naiknya harga minyak dunia akan menyebabkan biaya angkut bahan baku meningkat. "Saat ini harga minyak dunia mencapai USD82 per barel," ujarnya.
Lebih lanjut, Irvan mengatakan, faktor dari dalam negeri juga mendukung naiknya harga baja dalam negeri. Sehingga faktor eksternal didukung oleh membaiknya perdagangan internasional terutama ekspor, sedangkan internal dipengaruhi belanja pemerintah.
Dengan adanya kenaikan harga baja ini, Irvan memprediksikan, akan ada kenaikan produk hilir dari baja seperti seterika, AC, dan mobil. Namun Irvan belum mengetahui besar kenaikannya.
"Biasanya untuk kenaikan harga iron ore sebesar 40 persen maka harga baja naik sebesar 20 persen, kalau untuk barang jadi saya tidak begitu mengetahui, yang pasti ada kenaikan," tukas dia.
Tabung Gas
Sementara itu, Irvan memprediksikan, akan ada peningkatan permintaan baja dari KS sebesar 10 persen setiap bulannya jika proyek tabung gas elpiji 3 kg terjadi.
"Tahun ini kepastian proyek gas elpiji 3 kg belum ada kepastian, karena masih dibicarakan, tapi kalau ada ini memberi dampak yang baik. Kita tunggu keputusan Pertamina," kata dia.
Untuk harga baja bagi proyek tabung 3 kg ini, Irvan menambahkan, tidak ada kenaikan, karena ini merupakan proyek pemerintah sehingga harga sudah ditentukan. (Sandra Karina/Koran SI/ade)