Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

GDYR Optimis Pendapatan Tumbuh di Atas Rp1 Triliun

Whisnu Bagus , Jurnalis-Selasa, 19 Oktober 2010 |19:26 WIB
GDYR Optimis Pendapatan Tumbuh di Atas Rp1 Triliun
ilustrasi. foto: corbis
A
A
A

JAKARTA - PT Goodyear Indonesia Tbk (GDYR) optimis pendapatan periode Januari-September 2010 tumbuh sekira 30 persen menjadi Rp1,185 triliun dari perolehan kuartal III-2009 sebesar Rp915,2 miliar. Adapun naiknya daya beli masyarakat seiring membaiknya perekonomian nasional menjadi pemicu pertumbuhan tersebut.

“Hasil kita di kuartal tiga tahun ini sepertinya tidak jauh berbeda dengan proyeksi GDP (growth domestic product),” kata Direktur Utama PT Goodyear Indonesia Iriawan Ibarat di Jakarta, Selasa (19/10/2010).

Dia mengatakan, kinerja Goodyear pada periode Januari-September 2010 diharapkan tumbuh positif seiring dengan pertumbuhan ekonomi nasional.

Pada tahun ini, pemerintah menargetkan produk domestic bruto (PDB) nasional di kisaran enam persen atau naik 30 persen dari 2009 di level 4,5 persen. “Secara umum pendapatan kami di kuartal tiga ini akan mengikuti growth nasional,” kata Iriawan.

Menurut dia, naiknya pendapatan perseroan tak lepas dari membaiknya daya beli masyarakat. Pulihnya ekonomi nasional mendorong pertumbuhan industri di sektor riil, termasuk di sektor automotif.

Hal ini mendorong permintaan ban di dalam negeri sehingga berdampak positif pada peningkatan pendapatan. “Kinerja kami diharapkan mengikuti perkembangan industri,” kata Iriawan.

Kondisi dalam negeri yang membaik lanjut dia, cukup berpengaruh signifikan pada kinerja perseroan. Pasalnya, porsi pasar domestik perseroan hampir setengahnya dibandingkan porsi ekspor.

Sementara ekspor dilakukan ke sekitar 52 negara, antara lain Australia, Amerika Serikat (AS) dan negara ASEAN. “Porsinya hampir fifity-fifty,” kata Iriawan.

Di sisi lain dia mengungkapkan, sejak awal tahun hingga kini bahan baku perseroan telah mengalami kenaikan sekira 40 persen.

Hal ini seiring dengan meningkatnya harga minyak mentah dunia sehingga berdampak pada kenaikan harga komoditas lain, seperti batu bara dan karet. “Semua harga kan naik sebagai konsukuensi pemulihan ekonomi,” kata Iriawan.

Meski demikian, lanjut dia, kenaikan tersebut diantisipasi dengan produktifitas sehingga tidak seluruhnya dibebankan pada harga jual sehingga konsumen tidak diberatkan. “Tingginya harga bahan di-offset dengan produktifitas,” katanya.

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement