KARAWANG - Kebutuhan bahan peledak berkekuatan rendah yakni amonium nitrat nasional diproyeksikan akan mencapai 800 ribu ton dalam lima tahun mendatang.
Untuk tahun depan, kebutuhan juga diproyeksikan akan menjadi 550 ribu ton. Jumlah itu meningkat dari kebutuhan pada tahun ini yang sekira 500 ribu ton. Hal itu seiring dengan pertumbuhan proyek infrastruktur dan pertambangan.
Setiap tahun, Indonesia mengimpor amonium nitrat sebanyak 400 ribu ton atau senilai USD240 juta dari beberapa negara seperti Australia dan Afrika. Untuk harga amonium nitrat saat ini adalah sekira USD700 per ton.
Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan, pembangunan industri nasional yang berbasis bahan galian logam dan non logam terus bertumbuh secara signifikan, seiring dengan meningkatnya pembangunan infrastruktur mmaupun sektor properti.
Berkembangnya berbagai kegiatan fisik tersebut, kata dia, mendorong bertumbuhnya sektor industri pendukung seperti semen yang membutuhkan penyediaan bahan baku seperti batu kapur dan batu bara maupun bahan galian lainnya yang diperoleh melalui proses peledakan.
"Dalam lima tahun mendatang, kebutuhan terhadap amonium nitrat diproyeksikan mencapai 800 ribu ton seiring dengan meningkatnya kegiatan pembangunan infrastruktur dan ini perlu diantisipasi melalui upaya peningkatan pasokan bahan peledak tersebut dari dalam negeri,” kata Hidayat di sela-sela acara peresmian pabrik PT Multi Nitrotama Kimia (MNK) kedua di Cikampek, Karawang, Jawa Barat, Senin (3/10/2011).
Menurutnya, beroperasinya perluasan pabrik PT MNK kedua yang senilai USD69 juta itu memberikan dampak penting terhadap pembangunan industri maupun perekonomian nasional dalam hal penghematan devisa maupun penyerapan tenaga kerja, dan yang terutama adalah penguatan struktur industri. Hidayat berharap, investasi bahan peledak bisa terus meningkat guna mengurangi ketergantungan impor.
"Perluasan pabrik amonium nitrat ini merupakan langkah konkret dalam upaya meningkatkan kemampuan memenuhi kebutuhan industri bahan peledak terutama yang berbasis low explosive yang terus meningkat dan selama ini sebagian besar masih diimpor,” jelasnya.
PT MNK telah membangun pabrik kedua sejak Oktober 2009 dengan kapasitas 100 ribu ton per tahun, atau naik dari sebelumnya yang sebesar 38 ribu ton per tahun. (rfa)
(Rani Hardjanti)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.