>

Enam Tanda Kejatuhan Seorang Pemimpin

|

Koran SINDO -

Ilustrasi. (Foto: Okezone)

Enam Tanda Kejatuhan Seorang Pemimpin
SEBUAH keberhasilan tidak akan bertahan lama jika yang bersangkutan tidak dapat mempertahankannya. Hal itu sering kita saksikan dalam kehidupan pribadi seseorang maupun dalam per-usahaan.

Patah tumbuh, hilang berganti; kejatuhan seseorang biasanya diikuti oleh kebangkitan orang lain, seperti dalam kepemimpinan sebuah negara. Demikian pula dengan perusahaan, satu jatuh, justru merupakan kebangkitan bagi perusahaan lain, baik pesaing langsung maupun tidak langsung yang melihat kesempatan terbuka dengan kejatuhan sebuah perusahaan. Sebuah perjalanan kehidupan tidak terlepas dari up-and down, jatuh bangun, tidak ada yang mulus terus.

Perjalanan yang terlihat mulus sering membuat terlena dan tanpa disadari membawa kecelakaan, masuk jurang. Sebaliknya, jalan berkelok-kelok akan membuat kita tetap waspada. Seperti halnya sebuah kendaraan, tidak hanya dilengkapi dengan pedal gas untuk maju dan memacu, tapi juga dengan rem. Fungsinya untuk men-cegah agar tidak celaka menubruk kendaraan lain ataupun masuk jurang, kebablasan. Yang sering terjadi dan kita dengar kecelakaan disebabkan karena rem blong.

Demikian pula dengan diri seorang pemimpin, entah itu leader sebuah perusahaan ataupun negara atau kerajaan. Mereka yang jatuh, biasanya dikarenakan kebablasan tidak menjaga dan mengontrol dirinya, melainkan dan pintarnya mengontrol orang lain. Thom S Rainer, pengamat sosial khususnya dalam perkembangan generasi muda dan kepemimpinan, menyodorkan setidaknya ada enam tandatanda kejatuhan dari seorang pemimpin. Pertama, rasa percaya diri yang berkelebihan.

Pemimpin, entah meniti karier dari bawah atau dipasang di posisinya pada tingkat tertentu adalah seorang berhasil. Dan seseorang yang merasa berhasil memiliki rasa percaya diri tinggi untuk mampu melakukan tugasnya sebagai pemimpin. Dengan berjalannya waktu timbul dalam dirinya rasa kebanggaan, apalagi di sekelilingnya banyak orang yang mengagumi dan menyanjungnya. Apa saja yang diinginkannya dengan berbagai cara disediakan oleh lingkaran manusia di sekelilingnya, Asal bapak atau asal ibu senang (ABS atau AIS).

Kedua, menderita kelelahan secara fisik dan emosi. Oleh karena ingin menunjukkan diri lebih dari bawahan dan pengikutnya, maka seorang pemimpin bekerja melewati batas waktu orang biasa untuk dapat menangani berbagai persoalan sebagai konsekuensi menjadi pemimpin. Ada pemimpin yang takut mendelegasikan tugas kepada bawahan karena takut anak buah menjadi lebih pintar dan merebut kedudukannya. Ada pula yang menganggap bahwa bawahan tidak becus.

Mungkin untuk beberapa bulan atau tahun pertama tidak menjadi masalah, stamina masih tinggi. Namun, manusia yang terdiri dari daging dan tulang tidak akan sanggup menanggung beban yang berkepanjangan, maka pada akhirnya terjadi kelelahan, baik menjadi sakit, kurang fit, maupun memiliki emosi yang tidak stabil, mudah marah dan tersinggung. Dalam keadaan seperti itu banyak keputusan yang diambil ngawur. Ketiga, menjauh dari pengikut. Seorang pemimpin pada awal mulanya dekat dengan rakyat, pengikut atau bawahan.

Merasa karena merekalah dia menjadi pemimpin. Namun, adanya lingkaran manusia yang memagarinya dengan berbagai alasan, termasuk alasan membahayakan jika terlalu dekat dengan orang banyak, maka sang pemimpin mulai mengisolasi diri, menjauh dari rakyat, atau pengikut atau bawahan. Dia merasa sebagai manusia super yang tidak pantas terlalu bergaul erat dengan orang kebanyakan.

Keempat, berbohong. Untuk menutupi kekurangan dan kesalahan, yang dahulunya dikenal sangat terbuka dan transparan, mulai pandai berbohong dan mengarang cerita yang berbeda jauh dari kebenaran. Disangkanya, dengan kekaguman terhadap dirinya dan kekuasaan yang ada di tangannya, maka setiap bawahan, pengikutnya, akan menerima apa pun yang dikatakannya. Kelima, terjadi eskalasi dalam menyampaikan bantahan.

Selain pandai berbohong, pemimpin yang bersangkutan mulai pandai bersilat lidah, membantah atas fakta yang diungkapkan khususnya yang dapat merugikan dirinya. Dan biasanya ia mencari seseorang atau sekelompok orang untuk menjadi “kambing hitam” agar sasaran tidak mengena dirinya melainkan orang lain. Keenam, tidak lagi berdoa atau beribadah kepada Tuhan. Selaku orang beragama sebelum menjadi pemimpin yang bersangkutan sangat dekat dengan Tuhan dan rajin berdoa.

Namun dengan berjalannya waktu, dengan alasan tidak ada waktu, ia mulai malas beribadah, belum lagi didorong rasa ego yang tinggi bahwa semua keberhasilan adalah karena dirinya yang hebat. Dari malas berdoa berangsur menjadi meninggalkan Tuhan sekalipun dalam KTP masih tertulis dengan jelas ia pemeluk agama tertentu.

Jika telah menunjukkan gejala di atas baik sebagian apalagi keenam-enamnya, maka biasanya tidak lama lagi pemimpin tersebut akan mengalami kejatuhan. Dan tidak jarang kejatuhan tragis yang mem-bawa maut bagi dirinya. Oleh karena itulah pemimpin perlu menghindarinya, walau sejarah berulang, orang tidak mau belajar dari pengalaman dan mengulangi kesalahan yang sama. Mudah-mudahan bukan Anda. Maju terus dan Sukses!

ELIEZER H. HARDJO PH.D.CM
Dr. Eliezer H. Hardjo, Ph.D., CM
Ketua Dewan Juri Rekor Bisnis (ReBi) &
Institute of Certified Professional Managers (ICPM)

(wdi)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Kadin Nilai Sosialisasi Pasar Bebas 2015 Masih Kurang