Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Liputan Khusus KTT APEC

SBY: Kecanduan Kita akan Bahan Bakar Fosil Merusak!

Martin Bagya Kertiyasa , Jurnalis-Minggu, 06 Oktober 2013 |16:50 WIB
SBY: Kecanduan Kita akan Bahan Bakar Fosil Merusak!
Presiden SBY. (Foto: Okezone)
A
A
A

NUSA DUA - Bertambahnya populasi penduduk dunia telah membuat keseimbangan lingkungan terganggu. Pasalnya, meningkatnya populasi penduduk berbanding terbalik dengan pertumbuhan energi dunia.

"Aktivitas manusia juga memberikan kontribusi terhadap degradasi parah ekosistem alam kita dan kapasitas regeneratif nya. Perilaku sembrono kita akan menempatkan tekanan pada keanekaragaman hayati, air tawar dan akses pangan kita," katanya dalam pembukaan Tri Hita Karana International Conference on Tourism di Bali, Minggu (5/10/2013).

Dia menjelaskan, selama bertahun-tahun memancing secara berlebihan, pencemaran air, dan kerusakan habitat telah membahayakan ekosistem laut. Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO PBB) memperkirakan bahwa 80 persen dari perikanan dunia yang dieksploitasi habis.

"Sementara itu, diperkirakan ada 870 juta orang kekurangan gizi di dunia. Malam ini, satu dari delapan orang akan pergi tidur dengan perut lapar. Dan keesokan harinya, dia tidak akan memiliki energi yang cukup untuk menjalani kehidupan yang aktif dan produktif," jelas SBY.

Oleh karena itu, dia mengungkapkan Kemajuan industri seharusnya membawa peningkatan kemakmuran bagi ratusan juta orang di seluruh dunia, terutama kaum miskin di dunia.

"Tapi kemajuan industri ini beberapa efek samping. masyarakat telah telah mencekik atmosfer dengan gas rumah kaca yang berbahaya. Kecanduan kita akan bahan bakar fosil mengubah iklim global," tukas dia.

(Martin Bagya Kertiyasa)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement