YOGYAKARTA - Bagi remaja apalagi perempuan, bau khas kambing tidak menarik bahkan cenderung dijauhi. Namun tidak berlaku bagi Indar Prastiwi, gadis berusia 25 tahun warga desa Manding Kidul Rt 06 Trirenggo Bantul DIY. Setiap hari dirinya bercengkerama dengan kambing jenis etawa miliknya.
Di kandang yang dia beri nama 'Gandhiza Farm' ini gadis berambut panjang ini memelihara 15 ekor kambing etawa. Setiap beberapa hari sekali, Dengan cekatan Tiwi memandikan kambing miliknya.
Tidak jarang kambing yang memiliki tinggi di atas kambing jenis biasa tersebut, menyeruduknya. "Takut sih tidak, tetapi memang harus waspada. Namanya hewan tiba-tiba bisa menyeruduk," ucapnya.
Dia mengisahkan, awalnya dia memiliki belasan kambing. Pada 2002 dia membeli anakan Etawa Ras Kaligesing dari hasil tabungan semasa SMP. Tidak disangka saat dewasa kambing yang bernama 'Dewangga' ini memiliki ukuran yang besar. Tiwi lalu, mengikuti kontes kambing.
"Tidak semua kambing bisa masuk kategori kontes. Kan ada kategori-kategorinya seperti, telinganya harus panjang tipis seperti disetrika, kepala seperti cakil, jidat nonong," paparnya.
Tiwi mengungkapkan, selama mengikuti kontes, kambing miliknya beberapa kali memenangkan kontes kambing etawa. Lalu dia membeli seekor kambing betina untuk peranakan. Hasilnya, kambing miliknya terus beranak pinak, hingga sekarang. "Sudah beberapa kali menjual kambing, hasilnya lumayan," katanya
Ada terakhir dari dua bersaudara anak pasangan Subagiyo-Darsiyem mengungkapkan, harga kambing Etawa jauh daripada kambing biasa. Harga anakan usia empat bulan Rp2 juta. Harga itu bisa berlipat jika masuk kategori kontes bisa berharga hingga Rp10 juta.
(Martin Bagya Kertiyasa)