JAKARTA - Industri kakao nasional tahun ini terancam kehilangan penerimaan pendapatan ekspor sekitar USD57-114 juta. Hal ini disebabkan masih adanya perbedaan harga jual ekspor kakao nasional di pasar dunia.
Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Kakao Indonesia (AIKI) Sindra Wijaya mengungkap kan, potensi kehilangan penerimaan ekspor industri kakao domestik terjadi akibat masih rendahnya kualitas produksi. Hampir 100 persen dari total ekspor kakao domestik masih belum difermentasi sehingga menurunkan daya tawar di mata konsumen dunia.
Menurut Sindra, tarif harga jual komoditas kakao nasional pada 2009 di terminal pengiriman kakao New York,Amerika Serikat, rata-rata senilai USD2.600 per ton. Dari harga tersebut,rata-rata harga jual Indonesia ditetapkan USD2.400-2.350 per ton. "Kalau untuk di pasar dunia, biasanya harga jual kakao kita dikurangi USD200-250 per ton," ujarnya di Jakarta kemarin.
Dia menambahkan kondisi tersebut berbeda dengan Ghana,yang merupakan produsen kakao terbesar kedua dunia setelah Pantai Gading. Ekspor kakao dari Ghana ditetapkan harga premium yakni USD200 lebih tinggi dari harga rata-rata terminal pengiriman kakao New York.
Terkait kapasitas produksi, ujar Sindra, kakao nasional pada 2009 diprediksi hanya mencapai 248.000-406.000 ton atau turun 30-40 persen dibanding realisasi tahun lalu sebanyak 580.000 ton. "Dari perbedaan harga dunia USD200 harga jual di terminal AS dan jarak USD400 harga komoditas Ghana, maka kami menemukan potensi pendapatan ekspor industri kakao yang hilang senilai USD57-114 juta sepanjang 2009," katanya.
Diakuinya, penurunan pendapatan tahun ini jauh lebih rendah dibanding nilai pendapatan yang hilang sepanjang 2008.Tahun lalu, volume ekspor kakao nasional mencapai 350.000 ton.Harga di terminal New York dan tarif komoditas kakao Ghana masing-masing senilai USD2500 dan USD2.700 per ton.
Sedang tarif harga jual komoditas kakao nasional dipatok senilai USD2.300 per ton. Berdasar harga pengiriman USD2.500 per ton, maka nilai ekspor kakao yang bisa didapat industri domestik tak kurang dari USD875 juta dengan asumsi total pengiriman kakao ke pasar dunia 350 ribu ton.Tetapi, karena hanya dihargai USSD2.300 per ton,maka pendapatan ekspor industri hanya USD805 juta, kurang USD70 juta dari tarif kakao yang berlaku.
Sindra mengkhawatirkan, industri akan terus kehilangan pendapatan di pasar ekspor hingga tahun-tahun mendatang. Pasalnya, akar permasalahannya berupa komoditas kakao yang belum difermentasi namun sudah diekspor belum juga dituntaskan oleh pemerintah. "Bila ini terus berlaku, maka mustahil industri bisa menarik diri dari belitan potensi kehilangan pendapatan jutaan dolar AS per tahun,"katanya.
Untuk itu,kata Sindra,industri kakao nasional mengharapkan pemerintah lebih mendorong penerapan kebijakan kewajiban fermentasi. Ketua Asosiasi Pengusaha Industri Kakao dan Cokelat Indonesia (APIKCI) Sonny Satari sebelumnya mengungkap kan, petani kakao domestik belum banyak menerapkan proses fermentasi guna meningkatkan mutu biji kakao karena membutuhkan biaya cukup besar. "Dengan proses fermentasi akan meningkatkan kualitas kakao. Secara bentuk lebih bagus dan aromanya lebih harum," ujarnya.Â
(Candra Setya Santoso)