Omset Perajin Fiberglass di Bantul Capai Rp40 juta/bulan

Daru Waskita, Jurnalis
Minggu 18 Oktober 2009 17:35 WIB
Foto: Koran SI
Share :

BANTUL - Seorang pengrajin sibuk membubuhkan serat yang terbuat dari serabut, resin, metilar dan hirosil kedalam sebuah cetakan berbentuk tubuh perempuan.

Setelah satu per satu bahan dimasukkan ke dalam cetakan, selanjutnya memasukkan cetakan perekat supaya Manekin yang dibuat hasilnya bisa maksimal. Itulah gambaran kesibukan para pekerja yang sedang membuat kerajinan Manekin di rumah milik Sastro Mualif, pemilik UD Cahyo Fiberglass yang ada di Glagahan, Caturharjo, Pandak, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Minggu, 18 Oktober 2009. Sastro mengaku membuat usaha kerajinan fiberglass karena keadaan.

Pasalnya, kala itu pada 1991 ketika dirinya bekerja di sebuah pabrik fiberglass di Jakarta, orang tuanya sering sakit-sakitan. Lantaran tidak ada yang menjaga orang tuanya, Sastro pun nekad pulang kampung untuk membuat usaha fiberglass sendiri dan terpaksa meninggalkan pekerjaan yang sudah dilakoni sejak 1974. Hanya bermodal Rp 200 ribu dan dibantu tiga putranya, kini omzet usaha kerajinan fiberglassnya yang didirikan pada 1991 silam sudah mencapai Rp40 juta per bulan.

"Sekarang semua anak saya sudah mandiri, membuat usaha sendiri ada yang usaha fiberglass ada juga yang bengkel. Sekarang saya punya tujuh pekerja dengan omzet Rp30 hingga Rp40 juta per bulan dengan keuntungan bersih 30 persen," kata Sastro, 51 tahun, sambil menunjukkan proses produksi kereajinan fiberglass.

Sastro menambahkan awal mendirikan usaha kerajinan fiberglass, pesanannya hanya datang dari DIJ saja, tapi setelah dilakukan beberapa tahun kemudian banyak pemesan dari luar DIJ seperti Pati, Temanggung, Semarang, Klaten dan Magelang. "Yang paling jauh sekaligus paling besar adalah pesanan dari Aceh. Pesanan membuat arena permainan air atau waterboom. Nilainya mencapai Rp1,2 miliar. Untuk membuat pesanan ini saya melibatkan 20 tenaga kerja terdiri dari sepuluh tenaga konstruksi dan sepuluh karyawan pembuat alat," tegas Sastro.

Karena kerajinan yang ia buat menggunakan sistem lapisan serat serabut, resin, metilar, hirosil dan lain-lain bukan sistem cor, maka banyak masyarakat yang memesan berbagai kerajinan kepada dirinya.

Menurut Sastro, produk kerajinan fiberglass dengan sistem lapisan serat tidak mudah pecah, sedangkan fiberglasss dengan metode cor mudah pecah. "Meski jatuh, kalau pakai serat tidak pecah. Tapi kalau sistemnya cor, maka mudah pecah," terangnya.

Sastro mengaku banyak mendapat pesanan untuk alat-alat salon seperti meja, kursi untuk keramas, facial dan lain-lain. Namun, dengan keinginan kuat mengembangkan usaha, didukung prinsip pantang menolak pesanan, maka usaha fiberglass pun tidak perna sepi dari order.

"Prinsip saya tidak pernah menolak pesanan. Meski desainya susah, saya tetap berusaha mengerahkan keahlian saya untuk memenuhi pesanan. Dalam jangka satu minggu, pesanan sudah jadi," paparnya.

Karena promosi yang dilakukan belum maksimal, maka order yang ia terima pun belum begitu banyak dan hanya musiman saja. Pesanan biasanya datang ketika menjelang tahun ajaran baru, menjelang lebaran dan natal.. "Pesanan dari SMK untuk praktek. Rata-rata ada pesanan 30 manekin dan torse untuk swalatan" ungkap Sastro.

Sastro berharap kepada Pemda Bantul mau membantu permodalan untuk mengembangkan usahanya. Selain itu, pihanya juga kesulitan mempromosikan kerajinan yang ia buat. "Kalau bisa waterboom yang akan dibuat di Pasar Seni Gabusan (PSG) pesan dari pengrajin dari Bantul bukan dari luar DIJ supaya pengrajin bisa berkembang," harapnya. 

(Candra Setya Santoso)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya