JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) mengaku akan membuat aturan mengenai pembatasan ekspor batu bara ke luar negeri. Hal ini dikarenakan cadangan batu bara Indonesia ternyata tidak banyak.
Sekretaris Jenderal Dirjen Mineral dan Batubara KESDM Harya Adityawarma mengatakan, pihaknya baru saja mengadakan pengkajian untuk mengendalikan batu bara.
"Kita akan mencari teknologi apa yang cocok sehingga ada jenis batu bara yang bisa diekspor dan mana yang tidak diekspor. Jadi kemarin memang belum diputuskan," ungkapnya kala ditemui di acara Jakarta Enegy Forum, di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Kamis (29/3/2012).
Menurut dia, cadangan batu bara Indonesia ternyata tidak sebanyak cadangan batu bara milik China dan India. Cadangan batu bara Indonesia, hanya tiga persen dari cadangan dunia sebesar 28 miliar ton yang 78 persen di antaranya diekspor mentah.
Padahal, negara-negara lain seperti China yang memiliki cadangan batu bara sebesar 115 miliar ton, India 59 miliar ton tidak melakukan langkah yang sama dengan Indonesia. "Kita ekspor ke China batu baranya, hampir 25 persen (dari total ekspor batu bara), padahal cadangan kita tidak sebanyak China," lanjut dia.
Namun, Adityawarman juga menjelaskan, tahun ini, akan ada pemanfaatan batu bara sepenuhnya digunakan dalam negeri (Domestic Market Obligation/DMO) karena di dalam negeri pun sebenarnya sangat membutuhkan.
"Produksi batu bara diharapkan akan berkontribusi di sektor minerba sebanyak 332 juta ton di mana DMO batu bara mencapai 82 juta ton," jelas Adityawarman.
Terkait pengendalian ekspor batu bara ini, Adityawarman menyebut bahwa sebenarnya aturan ini akan disahkan bersamaan dengan Peraturan Menteri ESDM Nomor 7 Tahun 2012 tentang larangan ekspor bahan mineral.
Namun, hal ini ternyata belum siap sehingga pemerintah menundanya. Adapun pengaturan ekspor batu bara ini kemungkinan terkait dengan kalori batu bara. "Belum ada resmi batu bara kalori sekian boleh atau belum," tutur dia.
Pemerintah menargetkan, Permen mengenai pengendalian ekspor batu bara ini akan bisa rampung tahun ini.
(Martin Bagya Kertiyasa)