BANDUNG - Bank Indonesia (BI) optimistis jika pemerintah akan mengumumkan kebijakan pembatasan Bahan Bahar Minyak (BBM) bersubsidi dalam waktu dekat, maka lembaga rating Standart and Poors akan memberikan penilaian yang bagus untuk Indonesia.
"Kita optimis kalau langkah pengendalian BBM itu diumumkan, S&P bakal berikan rating seperti dua lembaga sebelumnya moody's dan fitch," Direktur Group Kebijakan Moneter BI Juda Agung, dalam paparannya, di Grand Royal Panghegar, Bandung, Sabtu (28/4/2012)
Juda menambahkan, S&P sebenarnya datang pada waktu yang tidak tepat. Di mana negara sedang kisruh dengan polemik kenaikan BBM bersubsidi. "S&P datang pas ribut BBM," tegasnya.
Maka dari itu dalam situasi normal, secara fundamental Juda mengatakan bahwa tidak ada alasan S&P untuk tidak menaikan rating. "Secara fundamental tidak ada alasan untuk tidak menaikan rating kita," tandasnya.
Kepala BKPM, Gita Wirjawan sebelumnya mengatakan jika S&P belum memberikan gelar investment grade untuk Indonesia lantaran batalnya kenaikan harga BBM subsidi. "Soal S&P saya tidak terlalu khawatir, saya rasa ini masalah waktu saja," ungkap Kepala BKPM Gita Wirjawan.
Meskipun pada situasi saat ini kepastian kebijakan pengendalian konsumsi BBM bersubsidi masih belum terealisasi. Selain itu, keyakinan ini pun timbul sehubungan dengan dua lembaga pemeringkat ternama, Fitch Rating dan Moody's, telah memberikan rating investment grade untuk Indonesia.
"Hanya tinggal menunggu waktu saja dan ini hanya bisa didukung dengan data-data positif dan ini akan mempengaruhi peningkatan. Target Indonesia bukan investment grade, tapi tidak ada alasan untuk kita jadi single A," tandas Gita. (nia)
(Rani Hardjanti)