JAKARTA - Defisit transaksi berjalan (current account) dapat tertutup bila realisasi Foreign Direct Investment (FDI) dapat menembus USD20 miliar. Peningkatan FDI, juga salah satu cara menjaga transaksi berjalan selain menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi.
"Kalau harga BBM tidak bisa dinaikkan, sebetulnya FDI harus dipuncakan (dimaksimalkan)," kata Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution, saat raker Pokok kebijakan fiskal dan asumsi makro RAPBN 2013 dengan Anggota komisi XI di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (5/9/2012).
Darmin mengatakan, bila FDI realisasinya bisa mencapai USD15 miliar-USD20 miliar, bukan tidak mungkin defisit current account tertutup. "Defisit current account tidak masalah, kalau FDI-nya mampu menutup defisit," ujar Darmin.
Darmin menjelaskan, dalam tujuh hingga delapan tahun terakhir pihaknya telah melakukan penyesuaian persediaan (adjusment), untuk membahas kenaikan harga BBM bersubsidi guna memperbaiki defisit transasi berjalan akibat harga minyak dunia naik, dan impor meningkat. "Sekarang ini tidak melakukan adjustment, membuat semakin lama, karena belum menaikkan BBM," kata dia.
Di kesempatan yang sama, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Bambang PS Brojonegoro menjelaskan fokus FDI diutamakan kepada bidang Sumber Daya Mineral (SDM) dan investasi di sektor pasar domestik. "Ini paling menentukan laju ekonomi Indonesia," kata dia.
Bambang mengatakan, selain pertumbuhan ekonomi yang juga harus dicermati adalah target investasi sebesar 12 persen dapat tercapai. "Karena perkiraannya di atas 10 persen sedikit," tambahnya.
(Martin Bagya Kertiyasa)