Sejauh Mana Dampak Fiscal Cliff ke Indonesia?

Rizkie Fauzian, Jurnalis
Senin 07 Januari 2013 15:01 WIB
Ilustrasi. (Foto: Okezone)
Share :

JAKARTA - Dampak dari perkembangan fiscal cliff di Amerika Serikat (AS) ke Indonesia diyakini akan menjadi sentimen positif, di samping baik untuk perkembangan ekonomi global.

Seperti diketahui, Pemerintah AS sepakat untuk menghindari fiscal cliff dengan menyetujui kenaikan pajak. Namun persetujuan untuk pemotongan anggaran pemrintah masih ditunda hingga dua bulan ke depan.

Menurut Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada, penundaan tersebut merupakan berita positif. Sebelumnya, dengan adanya kebijakan tersebut maka pertumbuhan ekonomi AS dipastikan akan negatif.

"Namun dengan penundaan tersebut maka ketakutan akan dampak fiscal cliff mulai terabaikan karena sebelumnya beredar penilaian dan solusi dampak kebijakan tersebut," ungkapnya, saat ditemui sejumlah wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Senin (7/1/2013).

Lebih lanjut, menurutnya, kebijakan tersebut seharusnya diputuskan pada 1 Januari. Namun dalam perjalanannya banyak menemui hambatan karena beberapa pihak memiliki jawaban tersendiri.

"Seharusnya tanggal 1 Januari namun dengan adanya penudaan akan memberikan nafas buat bursa global," jelasnya.

Sebelumnya, Reza juga mengungkapkan bahwa kebijakan tersebut tidak akan mempengaruhi secara langsung terhadap perekonomian Indonesia khususnya. Namun hal tersebut dapat menjadi sentimen negatif apabila kebijakan tersebut memang terlaksana.

"Pengaruhnya tidaklah langsung, namun dampak dari kebijakan tersebut yang nantinya mempengaruhi pasar terutama pelaku pasar yang sudah menanti hasil kebijakan tersebut," kata Reza.

Sementara itu, Head of Research KSK Financial Group David Cornelis menjelaskan, hadiah tahun baru bagi rakyat Amerika Serikat (AS) adalah terhindarnya dari tebing fiskal, karena terdapat risiko lima persen PDB (resesi), pertumbuhan tergerus 1,4 persen dari PDB, berkurangnya 1,8 juta lapangan kerja jika menabrak Tebing Fiskal, dan sekarang setelah berhasil mengelak maka dampaknya hanya 1 persen GDP (kontraksi).

"Kesepakatan tersebut belum terlambat karena akan berlaku pada 1 Maret 2013 saat tahun fiskal AS untuk tahun ini," kata David.

AS berhasil menghindar dari sengat krisis utang bergaya Eropa. Adapun keadaan di AS lebih baik dari Eropa karena yang dilihat adalah solvabilitasnya membayar utang ketimbang jumlah utang, dan juga beban utang AS tidak seberat Eropa.

Persoalan Eropa adalah bagaimana dapat menjalankan Kebijakan Fiskal Ketat namun juga harus mampu memberi stimulus fiskal agar perekonomian tetap tumbuh seperti yang diusung Keynesian.

Yang menarik, menurut David, dari persoalan utang AS adalah, selama empat tahun pertama pemerintahan Obama, akumulasi utang nasional telah tumbuh sebanyak waktu lebih dari dua abad, ketika George Washington mulai menjabat hingga George W Bush.
 
2012 telah menjadi tahun bersejarah bagi kebijakan moneter, dan 2013 akan menjadi tahun yang bersejarah bagi kebijakan fiskal, yaitu kebijakan politik kosmetik di 1 Januari dan kebijakan politik patetik di 1 Maret.
 
David melanjutkan, peran monumental Obama sebagai The Godfather telah mengajukan penawaran yang tak dapat ditolak dua musuhnya yaitu Norquist yang hubris dan Gerakan Partai Teh yang antipajak, mangkus membuahkan kemenangan politis bersejarah menekan rival Demokrat itu sejak 1984.

RUU telah disepakati Kongres dan disahkan oleh Parlemen setelah berdebat 17 bulan mengenai kenaikan pajak dan penundaan pemangkasan anggaran. Kesepakatan Anggaran ditunda sejauh mata memandang hingga antebellum Maret 2013.
 
Dari tiga masalah fiskal utama yakni "Kenaikan Pajak", "Pemotongan Anggaran Belanja" dan "Atap Utang". Baru satu yang telah ditangani, yaitu soal pajak. Masih ada dua hal yang mengganjal, "Kenaikan Atap Utang" yang saat ini sebesar USD16,4 triliun (melampaui 100 persen PDB AS) yang harus selesai medio Februari dan "Pemotongan Belanja" otomatis senilai USD110 miliar yang harus diputuskan akhir kuartal I-2013 ini.

Hal tersebut adalah dua "Tebing Fiskal" yang jauh lebih curam ketimbang "Lereng Fiskal" yang sudah dilewati 1 Januari 2013 kemarin. Terminologi "Tebing Fiskal" pada 1 Januari lalu telah berubah menjadi hanya “Lereng Fiskal”, dan relatif kurang relevan ketika ada yang lebih besar yaitu "Sekuester" dan "Atap Utang" yang menunggu di awal Maret.

Dejavu 3 tebing fiskal masa lampau di 1937, 1943, dan 1968 masih akan terbayang ketika petinggi AS dalam dua bulan ini menaiki 45 anak tangga menuju gedung Kongres, tempat teater melodrama dan sirkus politik menuju pergulatan baru karena hasil keputusan Kongres AS lalu sebenarnya masih belum tuntas, hanya ditunda.
 
Menyisakan isu Pemangkasan Belanja USD109 miliar untuk dua bulan ekstensi ke depan yang harus dilakukan Washington untuk mengurangi defisit yang tertulis di RUU pada halaman 154. Jika ini dibiarkan, AS tak akan hanya jatuh ke dalam "Tebing Fiskal", tetapi ke dalam "Palung Fiskal" hingga tidak sanggup untuk keluar lagi.
 
Dua tebing yang lebih besar adalah ketika "Sekuester" (pemotongan anggaran sebesar 10 persen) dalam sepertiga semester ke depan bertemu dengan "Atap Utang". Sekuester berhubungan dengan upaya penyitaan sebesar USD1,2 triliun selama 10 tahun yang terbit disebabkan oleh inkapabilitas Kongres mencapai pemotongan anggaran pada tahun sebelumnya.
 
Semoga dalam dua bulan garis mati ini cukup untuk membetulkan genteng negara, terkait masalah yang lebih besar dari "Tebing Fiskal", yaitu "Atap Utang". Jikalau tak dapat teratasi, maka kerisauan terhadap apa yang terjadi di Jepang di awal 1990-an setelah "gelembung meledak" akan menjadi realita, ketika pasar saham melakukan reli di awal lalu terperosok jurang dalam dan hingga sekarang masih berada seperempat dari nilainya di akhir 1989, adapun malaise ekonomi Jepang tersebut terjadi lebih dari dua dekade.
 
Perlu diketahui, AS sudah melewati batas "Atap Utang"-nya (USD16.394 triliun) seiring melewati malam tahun baru, dan saat ini berada pada rasio 106 persen utang terhadap PDB (USD16.432 triliun), sudah jauh meninggalkan batas aman 60 persen, hampir mendekati titik tertinggi sepanjang masa di level 120 persen seperti era Truman pada 1946.

Sementara itu, AS berada di urutan ketiga dalam akumulasi defisit terbesar terhadap PDB di dunia, setelah Irlandia dan Yunani dalam empat tahun terakhir (sejak krisis keuangan global). Dengan PDB hanya USD15,5 triliun, sedangkan defisit anggaran sudah mencapai USD1,08 triliun (tujuh persen PDB, sudah lebih dari dua kali batas aman tiga persen).

(Widi Agustian)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya