JAKARTA - Pelemahan harga komoditas membuat jumlah kekayaan sejumlah miliarder Indonesia mengalami penurunan, khususnya mereka yang berbisnis di sektor tambang. Pada periode sembilan bulan di tahun 2013 ini, sektor tambang menunjukan performa terburuknya di bursa efek.
Sektor ini turun 21 persen. Sementara, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 1 persen. Kendati demikian, sinyal penguatan harga komoditas telah datang dari pemulihan ekonomi China dan Indonesia yang membutuhkan batu bara lebih banyak. Walau begitu, memang ada kekhawatiran jangka panjang terkait dengan pengembangan shale oil sebagai sumber energi ramah lingkungan.
Dari 50 orang terkaya di Indonesia yang telah dilansir Forbes, Rabu (21/11/2013), ada delapan pengusaha di bidang energi dan pertambangan yang memiliki total kekayaan USD10,2 miliar, 18 persen lebih rendah ketimbang dua tahun lalu.
Low Tuck Kwong, yang kekayaannya sebesar USD3,7 miliar dua tahun lalu, turun sampai 32 persen menjadi USD1,37 miliar pada tahun ini. Paling tidak, dia masih memegang status sebagai miliarder.
Begitu juga dengan Garibaldi Thohir, Benny Subianto dan Kiki Barki. Bahkan, Kiki Barki mencatatkan penurunan kekayaan terbesar, yakni menjadi 37 persen menjadi USD680 juta, seiring anjloknya saham PT Harum Energy Tbk.
Garibaldi dan Benny masih untung, kekayaannya tidak melorot tajam. Saham perusahaannya, PT Adaro Energy Tbk berhasil recoveri dari level terendahnya di September lalu, tapi saham ADRO tetap melemah 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Hanya ada dua miliarder tambang yang berhasil mencetak kenaikan kekayaan. Salah satunya Peter Sondakh. Kekayaannya naik seiring dengan kenaikan harga saham perusahaannya, PT Golden Eagle Energy Tbk.
Sementara Theodore Rachmat mencatatkan kenaikan kekayaan bukan dari bisnis tambangnya, tapi dari bisnis kendaraan bermotornya di PT Daya Adicipta Mustika.
(Widi Agustian)