JAKARTA - Siang itu Jakarta agak sedikit mendung. Maklum saja, saat ini memang sudah memasuki musim penghujan. Mobil tim Okezone melaju dari Kebon Sirih ke bilangan Kebayoran Lama.
Okezone ada janji bertemu dengan seorang Arsitektur di kantornya. Memasuki Senayan, tepatnya di sekitar Hang lekir, kami mulai mencari-cari di mana Jalan Sinabung yang dimaksud.
Setelah berputar dan bertanya sana-sini, akhirnya kami sampai di tujuan, kantor Atelier milik Cosmas Gozali. Kantor ini memiliki bentuk bangunan yang khas. Dengan eksterior depan yang sangat terang karena menggunakan material kaca, ditambah sejuk dengan tanaman merambat yang terpelihara dengan baik.
Dengan ramah, Cosmas menyabut tim Okezone yang tiba di kantornya. Lobi kantor Cosmas dipenuhi dengan maket-maket bangunan aneka bentuk. Mulai dari maket hunian, gedung, hingga landmark yang menggelitik untuk ditelisik.
Cosmas mengajak Okezone naik ke lantai dua, tempat ruangannya bekerja. Nyaman dan menyenangkan tatkala memasuki ruangan yang tak terlalu luas, namun didesain dengan sangat artistik. "Saya memang cinta dengan art, makanya saya banyak membeli lukisan," kata Cosmas membuka pembicaraan.
Ruangan tersebut selain dipenuhi oleh kara seni, memang terdapat pula beberapa lukisan yang bertengger rapi di dindingnya.
Selain mencintai kesenian, Cosmas kecil juga ternyata sangat menyukai arsitektur. Bangunan-bangunan yang dia lihat dan dia lewati membuat hatinya bergetar dan yakin jika dia ingin menjadi arsitek.
"Dulu waktu kecil, orang tua saya suka mengajak jalan-jalan keliling. Karena dulu nggak macet, bawa kendaraannya pelan-pelan. Jalan santai saya suka lihat bangunan. Hati saya berdebar-debar, Saya bisa nengok ke belakang saat bangunan yang dilihat sudah tertinggal jauh.sejak itu (kelas 5 SD) saya berfikir untuk jadi arsitek," kenangnya.
Awalnya, orangtua Cosmas sempat menentang keinginannya itu. Kedua orangtuanya menginginkan dirinya terjun di dunia IT. Memang kala itu profesi arsitek masih dipandang sebagai karier yang tidak menjanjikan.
"Waktu itu IT memang yang lagi booming. Mereka ingin saya jadi IT. Saya bilang saya enggak bisa. Arsitek keinginan saya, risiko akan tanggung," katanya meyakinkan ke dua orangtuanya.
Akhirnya setamatnya dia dari SMA pada 1984, dia bertekad akan mengambil studi di bidang arsitektur. Setelah mengikuti seleksi serta tes yang panjang, Cosmas diterima di dua universitas di Jerman dan Austria. Setelah mempertimbangkan berbagai hal, Cosmas memutuskan akan melanjutkan studinya di Technische Universitäts Wien, Wina, Austria.
"Kenapa saya pilih Austria? Karena di Austria sedikit orang Indonesianya. Lho, kenapa? Karena saya suka sosialisasi. Saya takut kalau banyak temennya malah enggak belajar," ujarnya seraya tertawa.
Kuliah di luar negeri tak lantas membuatnya puas. Sebab, ada syarat yang diberikan oeh kedua orangtuanya. Yaitu, mereka hanya mau membiayai studinya hanya pada tahun pertama saja.
"Bukan karena mereka enggak mampu. Tapi akhirnya saya tahu, kalau enggak dengan cara seperti itu, saya rasa saya nggak akan seperti ini," katanya lagi.
Karena didikan yang boleh dibilang keras itu, Cosmas akhirnya tidak main-main. Selain bertekad untuk mengejar beasiswa, dia juga mulai bekerja di usianya yang baru 18 tahun. Cosmas mengantongi pundi-pundi dari pekerjaan sambilannya, yakni memberikan mata kuliah tambahan kepada teman-temannya yang membutuhkan jasanya alias mengajar.
"Saya mulai kasih les yaitu les Ilmu Ukur Ruang. Mata kuliah itu paling ditakuti oleh mahasiswa arsitektur bachelor. Banyak yang enggak lulus. Saya lulus, meskipun dengan nilai bukan yang terbaik," katanya.
Awalnya, dia sama sekali tidak berfikir untuk memberikan les. Tetapi seorang kawan menyarankan, daripada saya mengajarkan dengan gratis, bagaimana kalau saya mengajar dan dibayar. “Kata teman saya, toh saya butuh buat hidup. Akhirnya saya setuju," imbuhnya.
Dari hasil mengajar itu, Cosmas memperoleh sekira USD10 per jam per mahasiswa. Karena sistem perkuliahan di Austria yang fleksibel, Cosmas dengan mudah menyeimbangkan antara mengajar les dengan kuliah reguler. Hasilnya, dia merupakan salah satu dari beberapa mahasiswa angkatannya yang lulus gelombang pertama.
Cosmas juga sempat bekerja dengan seorang profesor di kampusnya. Cosmas banyak belajar dengan profesor yang terkenal kiler itu. Cosmas muda memang gigih. Dia sering menghabiskan waktu hingga larut malam untuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Saya dari dulu selalu bekerja. Karena prinsip saya adalah begini, kalau kita kerja delapan jam sehari dalam 10 tahun kita punya pengalaman 10 tahun. Tapi kalau saya kerja 16 jam sehari, dalam 10 tahun saya punya pengalaman 20 tahun," tuturnya.
Tidak jarang pula, akibat ketekunannya itu, Cosmas sering melewatkan banyak liburan musim panas di Eropa. Sebab, liburan musim panas tersebut dia gunakan untuk bekerja. Baginya yang berlaku adalah prinsip bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.
Kawan-kawannya memang sempat mengatakan jika dirinya bisa bersenang-senang. Bahkan mereka sampai mengatakan jika dirinya harus menikmati saat liburan itu. "Tapi dengan bekerja saya punya tabungan cukup. Jadi ketika saya pulang, lulus, saya pergi liburan bisa naik pesawat, karena saya punya uang. Teman-teman saya semua naik bis ngetem, karena uangnya mepet. Saya nggak mau backpacker. Karena saya ada uangnya, mereka nggak ada uangnya, itulah bedanya," jelasnya.
Indonesia adalah Masa Depan
Kala itu merupakan liburan musim panas. Cosmas D Gozali memutuskan pulang ke Indonesia dalam rangka liburan. Saat itulah, dia bertemu dengan saudaranya yang juga menekuni profesi arsitek. setelah melalui perbincangan, mereka memutuskan untuk membuat "sesuatu" di Indonesia.
"Akhirnya pada 1 Oktober, perusahaan patungan bernama PT Arkindo Cipta Kreatif resmi berdiri. Dan saya memutuskan untuk resign (dari pekerjaan di Eropa). Saya kembali akhir Oktober ke Wina, buat pamit," katanya menjelaskan.
Keinginannya untuk kembali ke Indonesia sempat dipertanyakan. Profesor tempatnya bekerja mempertanyakan, mengapa dia kembali ke Indonesia. Dirinya sempat sedih akan keputusan ini. Namun di dalam hatinya tersimpan niat yang sangat kuat, yaitu ingin berkarya dan membangun di Indonesia.
Dia mengaku melihat kesempatan yang luas di Indonesia. Hal itu didasarkan atas pemikiran bahwa manusia mulai bergerak, Indonesia mulai membangun, masyarakat tumbuh, properti tumbuh, properti di butuhkan.
"Waktu itu masih Hadiprana. Tapi masa semua akan dipegang oleh Hadiprana. Masa semua akan dipegang oleh dia, orang-orang seperti saya enggak ada kesempatan?" selorohnya.
Akhirnya, Desember 1992, dia kembali ke Indonesia. Perusahaan tersebut, yaitu PT Arkindo Cipta Kreatif mulai berkarya. Hingga pada 2005, Cosmas memutuskan untuk membangun perusahaannya sendiri. Kini, melalui Atelier Cosmas Gozali (Arya Cipta Graha) Cosmas melahirkan karya-karyanya.
Kini Cosmas menyadari, menjadi seorang arsitek tidak ada istilah pensiun. Bahkan dia menyebut, profesi arsitek merupakan tugas sampai mati.
"Kalau sekarang lulus kuliah usia 23 tahun, usia rata-rata Indonesia sampai 75 tahun, masih ada 52 tahun. Masa ada 52 tahun, buat belajar sampai 5-10 tahun enggak bisa," tandasnya. (bersambung)
(Yuni Astutik)