Jakarta Waterfront City, Design Masa Depan Ibu Kota

Yuni Astutik, Jurnalis
Senin 16 Desember 2013 12:46 WIB
Foto: Dok Cosmas D Gozali.
Share :

JAKARTA - Jakarta memiliki banyak problem. Selain macet, urusan hunian dan wilayah bisnis yang masih bercampur di Jakarta dinilai menjadi pekerjaan rumah yang sampai kini masih dicari solusinya.

Seorang senior, yaitu Cosmas D Gozali menelurkan sebuah ide yang menurutnya bisa mengurai persoalan di Jakarta. Disebut sebagai Jakarta Waterfront City, ide ini pun terpilih menjadi salah satu dari 40 di antara arsitek-arsitek Asia Tenggara.

Dia menjelaskan, dengan cara desentralisasi Jakarta, yaitu membuat ring baru ratusan kilometer. Nantinya, ring tersebut akan mengelilingi wilayah pinggir Jakarta.

(Foto : Dok Cosma D Gozali)

"Nantinya akan ada kawasan ekonomi baru (di ring), jadinya nggak cuma Jakarta sebagai pusat ekonomi," katanya kepada Okezone.

Cosmas mengatakan, area terluar seperti Jabodetabek bisa difungsikan sebagai pusat industri dan perdagangan. Gagasan ini, lanjutnya, bisa mengurangi kemacetan Jakarta. Selain itu, ketersediaan ruang terbuka hijau juga semakin bertambah.

"Kalau semakin banyak ruang terbuka hijau, orang-orang akan makin nyaman. Masyarakat bisa lebih positif thinking," ujarnya.

Selain mengurangi kemacetan, gagasan ini juga diklaim bisa meningkatkan kualitas hidup. Jakarta Waterfront City menurut idenya, akan dibuat sebuah kawasan yang terdiri dari tiga lapis atau disebut sebagai triple decker.

(Foto : Dok Cosma D Gozali)

Lapis pertama merupakan ruangan terbuka hijau dan ruang publik. Lapisan ini sebagai tempat gedung-gedung bertingkat serta area lainnya.

Sementara itu, lapisan kedua adalah jalur moda transportasi terpadu yang terdiri dari kendaraan, bus angkutan publik, kereta api serta MRT. Lapisan tiga, menjadi area parkir dan servis.

Salah satu ide liar dalam Jakarta Waterfront City ini adalah idenya memindahkan bandara ke laut. Hal ini dilakukan karena lahan yang semakin terbatas. Apalagi, masalah pembebasan lahan menjadi sesuatu yang pelik di Indonesia.

Kini, yang dipersoalkan adalah dana. Cosmas mengaku, jika ada dukungan dari pemerintah, maka proyek ini dipastikan bisa berjalan dengan baik.

Untuk jangka waktu idenya ini, menurutnya membutuhkan waktu 50-100 tahun. "Tapi sebenrnya, 25 tahun juga bisa selesai. 100-50 tahun itu kan pakai speed yang biasa," ujarnya.

(Foto : Dok Cosma D Gozali)

Dia tidak menampik akan menghadapi banyak kesulitan terkait idenya ini. Salah satunya, sistem pembebasan lahan. Belum lagi kritikan dari berbagai pihak. "Belum lagi kritikan kalau kita Indonesia nggak bisa hidup di bangunan yang tinggi," katanya lagi. (bersambung)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya