"Ironi, ketika beras tinggi tapi kenapa Nilai Tukar Petani (NTP) turun, logika kita harga beras tinggi NTP petani harusnya naik, kesejahteraan petani terabaikan," kata Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santoso saat ditemui di kawasan Cikini, Senin (25/5/2015).
Menurutnya, NTP saat ini tidak sesuai dengan inflasi yang terjadi selama tiga tahun belakangan, yang telah mencapai kisaran 21 persen. "Petani diminta semakin susah," sebutnya.
Menurutnya, upaya apa pun yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan produksi pangan akan sia-sia selama kesejahteraan petani masih rendah. Oleh karena itu, dia mengimbau kepada pemerintah untuk ikut memikirkan petani, dan tidak hanya terfokus pada konsumen.
"Kemendag jangan hanya fokus ke konsumen, fokus ke petani, Kemendag dalam berbagai kebijakan, bagaimana meningkatkan nilai di level petani itu yang penting," tukasnya.
Sekadar informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai tukar petani (NTP) April 2015 mencapai 100,14 persen, turun 1,37 persen jika dibanding NTP Maret 2015 yang sebesar 101,53 persen.
(Martin Bagya Kertiyasa)