Akan tetapi, Irfan al-Alawi dari Islamic Heritage Research Foundation menepis.
“Jika Anda menempuh dua mil dari Masjidil Haram, terdapat gurun luas, tanah, ruang yang cukup untuk membangun gedung pencakar langit sesukanya. Tapi jangan di kawasan Masjidil Haram. Di dalam Quran, tempat ini disebut sebagai tempat suci, tidak ada di kota-kota lain. Anehnya, jika Masjid Al-Aqsa di Jerusalem diganggu, umat muslim akan memprotes. Namun, jika ada sesuatu yang dibuldoser atau diledakkan di Mekah dan Medinah, umat muslim tinggal diam,” ujarnya kepada BBC.
Adapun umat muslim yang tengah menunaikan ibadah haji, kendati merasa trauma atas kecelakaan itu, mengaku bisa melakukan ibadahnya kendati pembangunan di kawasan Masjidil Haram terus dijalankan.
Syaiful Azwar, contohnya. Warga Indonesia itu mengaku berada 15 meter dari lokasi jatuhnya katrol besar di Masjidil Haram, pada Jumat lalu. Meski demikian, dia merasa aman.
“Kalau ingat kejadian itu, saya mau menangis rasanya. Tapi, Alhamdulillah saya nggak khawatir. Karena saya yakin kita pasti dilindungi Allah. Lalu pemerintah Arab Saudi juga pasti telah melakukan koreksi sana-sini, katanya."
"Nggak, kita nggak khawatir. Kita yakin aman,” katanya, lepas dari fakta bahwa lebih dari seratus orang tewas, akibat kecelakaan yang terjadi di depan matanya sendiri.
(Widi Agustian)