JAKARTA - Patung Pancoran atau dengan nama asli Monumen Dirgantara dibangun oleh Edhi Sunarso. Sang maestro menggarapnya hanya dalam kurun waktu satu tahun pada 1964-1965.
Namun ternyata pembangunannya tidaklah semudah membalikkan tangan. Ada kisah pilu di baliknya. Edhi adalah orang yang kerap diberikan kepercayaan Bung Karno, yang kala itu menjabat sebagai Presiden Indonesia. Kepercayaan yang diberikan karena Edhi mahir dalam membuat patung.
Perkenalan Edhi dengan Bung Karno berawal dari sebuah kompetisi pembangunan Tugu Semarang. Edhi menjadi juara dua mengalahkan peserta yang berasal dari 117 negara.
Saat peresmian Tugu Muda Semarang, Bung Karno mendatangi dan menjabat tangan Edhi memberikan selamat. Tentu hal itu membuat Edhi bingung. Setelah itu, Edhi mendapat beasiswa untuk belajar di India atas biaya Unesco.
Kala itu, Bung Karno berprinsip agar pembangunan negara, termasuk pendirian monumen, harus dikerjakan oleh anak bangsa. Tahun 1958, menjelang pelaksanaan Asian Games IV di Jakarta yang akan diselenggarakan pada tahun 1962, Bung Karno memanggil Edhi ke Jakarta dan memintanya mengerjakan patung perunggu setinggi sembilan meter.
Tentu permintaan itu mengejutkan Edhi, masalahnya ia belum pernah membuat patung dengan material perunggu. “Pak, jangankan sembilan meter, sembilan sentimeter pun saya belum pernah membuat patung perunggu. Bagaimana mungkin saya bisa melaksanakan pekerjaan ini?”, jawab Edhi dengan canggung.
Mendengar jawaban tersebut, Bung Karno dengan tegas berkata pada Edhi, “Hei, kau punya national pride ndak? Kau berani perang melawan Belanda, masak bikin patung saja ndak berani?”
Tahun 1964, Edhi mendapat tugas dari Bung Karno untuk membuat Monumen Dirgantara demi mengenang sifat kepahlawanan para pejuang Indonesia bidang kedirgantaraan.
Pada saat pengerjaan Patung Dirgantara , Bung Karno juga dengan geloranya memberi semangat pada Edhi Sunarso yang saat itu kesusahan menemukan ide bentuk patung. “Ed, kita ini tidak bisa membuat pesawat terbang, apalagi pesawat tempur. Tetapi waktu zaman revolusi kita tetap berani menerbangkannya. Jadi buatlah patung yang menonjolkan semangat keberanian itu. Apa yang kita punya? Kita punya semangat. Kita punya Gatutkaca!”, kata Bung Karno.
Ide dasar penciptaan Patung Dirgantara datang dari Bung Karno sendiri. Seperti telah diceritakan di pembahasan sebelumnya, Bung Karno menyebut “Kita punya Gatotkaca!” lalu berpose seperti Gatotkaca dan meminta Edhi membuat sketnya. “Cepat Ed! Segera kau buat sketnya! Seperti ini! Seperti ini!”, tegas Bung Karno.
Di tengah perjalanan, pengerjaan Patung Dirgantara sempat terhenti karena Edhi Sunarso kehabisan uang dan sakitnya Bung Karno. Dengan terbaring lemah dan wajah pucat, Bung Karno bertanya,“Edhi, apa Patung Dirgantara sudah selesai kau kerjakan?”
Edhi menjawab, “Sudah Pak.”
“Lalu mengapa tidak segera kau pasang?” tanya Bung Karno.
“Saya tidak punya biaya lagi, Pak. Bahkan saya terbelit banyak utang bahan dengan beberapa orang. Rumah saya pun sudah disegel karena menjadi agunan saya untuk meminjam bahan. Maaf Pak saya lancang, tapi begitulah kondisinya,” demikian Edhi menjelaskan.
Bung Karno kemudian menjual salah satu mobilnya untuk membiayai proyek Patung Dirgantara . Dari hasil penjualan mobil itu, bagian-bagian patung dapat diangkut dari Yogyakarta ke Jakarta dan dimulai pemasangannya.
Seperti dikutip academia.edu, dalam artikel Edhi Sunarso Pengabdian Sang Gerilyawan dan Pematung Monumen, Selasa (5/1/2016), menjelang finishing, Edhi menerima kabar berpulangnya Bung Karno. Maka, monumen Dirgantara adalah monumen yang tidak pernah terbayar lunas dan tidak pernah diresmikan.
(Rizkie Fauzian)