JAKARTA - Berdirinya suatu monumen atau patung disebut-sebut sebagai simbol atau penanda sebuah ciri khas kota tersebut. Bahkan, megahnya monumen dan patung juga mampu menyiratkan sebagai penanda bahwa kota yang berada di negara tersebut menyimpan peristiwa sejarah atau sosok yang dinilai berjasa bagi negara.
Namun, beberapa tahun belakangan ini tren pembangunan monumen atau patung dinilai sudah tidak diutamakan lagi. Di beberapa negara maju, seperti Indonesia, kini justru tengah berlomba-lomba membangun gedung-gedung pencakar langit (skyscraper). Pasalnya, itu dinilai lebih mampu menggambarkan suatu tingkatan perekonomian seiring menjulang tingginya gedung pencakar langit.
Pengamat perkotaan Yayat Supriatna menjelaskan, hal ini terjadi lantaran di zaman sekarang, telah secara perlahan mulai melupakan sejarah yang menjadi salah satu tonggak kehidupan terbangunnya suatu bangsa.
"Anak-anak sekarang melupakan sejarah. Tidak ada (pembangunan lagi) museum, cerita dongeng, landmark kota seperti Monas," ucapnya kepada Okezone, Jakarta, Selasa (5/1/2016).
Bahkan, ungkapnya, kebanyakan masyarakat kini justru jarang mengenal, mencari tahu dan mendengar sejarah. Sehingga, dinilai hanya mengenal sekadar patung saja dibandingkan dengan sejarah berdirinya patung tersebut.
"Bagi kita lama-lama di masyarakat sekarang ini sebagaimana patung saja. Karena sudah jarang dengar sejarah," tutur Yayat.
Sekadar informasi, Patung Dirgantara atau yang dikenal dengan Patung Pancoran ini merupakan hasil karya Edhi Sunarso. Edhi dikabarkan meninggal dunia pada Senin 4 Januari 2016 malam pukul 23.15 WIB di RS Jogja International Hospital. Seperti diketahui, karya Edhi tidak hanya berupa Patung Dirgantara, melainkan sederetan masterpiece lainnya berhasil ditorehkannya, seperti Patung Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Patung Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng, dan juga diorama Monumen Nasional (Monas).
(dhe)
(Rani Hardjanti)