JAKARTA - Setelah bertahun-tahun hanya sebatas dilakukan tahap eksperimental, kini program mina padi benar-benar akan kembali dijalankan. Mina padi merupakan program budidaya ikan tawar di lahan sawah.
Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Rizal Ramli bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian PUPR, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Pertanian, Bappenas, dan BPS sepakat untuk mengembangkan program mina padi itu dengan skala yang lebih besar. Pasalnya, program ini memberikan manfaat yang sangat besar, tidak hanya bagi petani tapi juga masyarakat Indonesia.
"Barusan ada rapat diwakili oleh Dirjen beberapa kementerian, KKP, Kementan, KLHK, Bappenas, Kementerian PU, dan BPS. Bagaimana bisa mengembangkan dengan apa yang dulu disebut mina padi. Karena bahasanya terlalu modern, jadi kasih namanya program ikan padi saja," ujar Rizal usai rakor di Gedung BPPT, Jakarta, Rabu (20/7/2016).
Rizal menargetkan, pada Maret 2017 sudah harus ada 100.000 hektare (ha) lahan pertanian yang menjalankan program mina padi. Kemudian pada Oktober 2017, sudah ada seluas 200.000 hektare lahan di seluruh Indonesia yang sudah menjalankan program ini.
Namun demikian, tentu program ini harus memerlukan persiapan karena tidak semua sawah bisa menjalankan program tersebut. Sawah yang bisa hanyalah sawah irigasi teknis dari waduk. Dari 7.000.000 hektare sawah Indonesia, hanya sekira 700.000 hektare yang dialiri waduk.
"Dari sungai dan hujan tidak cukup. Kita akan 200.000 hektare di seluruh lokasi Indonesia. Nanti Kementerian PU, Kementan akan identifikasi sawah-sawah mana saja di Indonesia yang bisa ini," jelasnya. (DNG)
(Rani Hardjanti)