KLATEN - Industri kecil menengah (IKM) cor logam di Dukuh Batur Desa Tegalrejo Kecamatan Ceper siap memproduksi komponen otomotif sebagai produk baru.
Kesiapan tersebut menjawab tantangan Menteri Perindustrian (Menperin) saat berkunjung ke Koperasi Batur Jaya beberapa waktu lalu.
Ketua Koperasi Industri Pengecoran Logam dan Permesinan Batur Jaya, Badrun Munir mengatakan, komponen otomotif pernah dikerjakan oleh beberapa perajin cor logam di Batur. Hanya saja, produksi tersebut mulai ditinggalkan dan beralih ke produk lain.
“Nanti (pengusaha) otomotif akan datang ke sini, untuk lihat apa yang bisa kami kerjakan. Dulu pernah mengerjakan velg racing, sekarang tromol. Jadi nanti kira-kira apa bisa dikerjakan akan dirembuk bersama,” ungkapnya kepada wartawan.
Persiapan produksi komponen otomotif, kata Badrun, dapat menggandeng sumber daya manusia (SDM). Di Kecamatan Ceper sendiri memiliki dua SMK yakni SMK Batur Jaya 1 dan SMK Batur Jaya 2. Serta terdapat satu perguruan tinggi (PT), Politeknik Manufaktur (Polman) Ceper.
Menurut Badrun, ketersediaan SDM dapat dimanfaatkan untuk menunjang pengembangan cor logam agar terus eksis dan memberdayakan masyarakat. Dia menyebut, industri cor logam mulai terseok-seok. Bahkan pada 2015 para perajin mengalami penurunan order hingga 30-50 persen.
“Kecuali Koperasi Batur Jaya, masih bisa hidup karena orderan blok rem kereta. Koperasi kami ada 260 anggota yang menaungi 3.600 perajin cor logam,” kata dia.
Sebelumnya, Menperin Airlangga Hartarto mendorong perajin cor logam dapat menciptakan produk baru selain blok rem saat berkunjung ke Koperasi Batur Jaya, Rabu 10 Agustus 2016. Airlangga mengemukakan, peluang IKM cor logam di pasar otomotif cukup besar.
Pasalnya, pertumbuhan pasar otomotif diperkirakan mencapai satu juta unit mobil per tahun. Kondisi tersebut tentu menjadi angin segar bagi IKM cor logam agar dapat terus bertahan dan menghidupi ribuan orang yang menggantungkan pendapatan mereka dari cor logam.
“Bisa enggak salah satu dari ribuan komponen otomotif dibuat di Ceper. Misal bikin komponen brake fluid. Kalau itu bisa dibikin, otomotif kan produknya satu juta. Bayangkan kalau bisa bikin 200.000 saja,” kata Airlangga.
(Dani Jumadil Akhir)