Mengenang Black Monday 19 Oktober 1987, Wall Street Tampil Terburuk Anjlok 22%

Martin Bagya Kertiyasa, Jurnalis
Kamis 19 Oktober 2017 14:17 WIB
Ilustrasi Wall Street. (Foto: Reuters)
Share :

NEW YORK - Investasi di pasar saham memang menawarkan banyak keuntungan yang tinggi. Namun, siapa sangka investasi di pasar sahamnya juga penuh dengan resiko tinggi, bukan hanya karena kesalahan manusia, tetapi juga karena kesalahan sistem.

Seperti yang terjadi di Wall Street 30 tahun yang lalu, 19 Oktober 1987, Wall Street mengalami kejatuhan terbesarnya yang dikenal dengan "Black Monday". Hari perdagangan saat itu, menjadi yang terburuk dalam sejarah A.S.

Kala itu, Dow Jones Industrial Average terjun bebas hingga 22,6% dalam satu hari, setara dengan penurunan sekira 5.200 poin dalam indeks hari ini. Indeks S&P 500 yang menjadi saham di Amerika Serikat (AS) merosot 20,5% atau lebih dari 520 poin dan Nasdaq turun 11,4% atau setara dengan penurunan sebesar 750 poin.

Padahal, pada 1987 harga saham di AS terus meningkat dengan mantap sepanjang tahun, dengan tiga indeks utama AS mencapai rekor tertinggi pada akhir Agustus. Namun, September menjadi bulan yang sulit, dengan masing-masing indeks turun lebih dari 2%. Namun, penurunan ini belum membuat investor panik.

Namun, memasuki bulan Oktober, penjualan di pasar ekuitas AS semakin meningkat. Dow Jones Industrial Average dan indeks S&P 500 pun turun lebih dari 9% dalam seminggu sebelum Black Monday.

Kemudian pada pagi hari Senin, 19 Oktober 1987, Art Hogan, yang saat itu menjadi broker di Boston Stock Exchange, memperkirakan kemungkinan rebound untuk harga saham. Para analis pun yakin rebound akan terjadi, lantaran penurunan pasar saham yang sudah cukup dalam.

Namun, penurunan minggu sebelumnya di pasar saham AS menyebabkan penjualan oleh investor di pasar Asia, yang ingin membatasi kerugian. Kerugian tersebut kemudian memberi isyarat kepada investor di Eropa untuk menjual, yang menyebabkan penjualan meningkat di pasar AS dan menjadi Black Monday.

Banyak yang mengatakan, awal mula Black Monday adalah karena perdagangan otomatis komputer yang kelebihan beban, yang disebabkan oleh penjualan asuransi portofolio, strategi lindung nilai terhadap penurunan pasar yang melibatkan penjualan dalam indeks berjangka pendek.

Asuransi Portofolio membuat short selling indeks saham berjangka, yang dilakukan untuk melindungi diri terhadap penurunan harga saham lebih lanjut. Akibatnya, komputer pun mengeluarkan order sell sebagai pengaman lebih banyak kerugian. Sebaliknya, kerugian yang meningkat menyebabkan aksi jual lebih banyak lagi, sebagai feedback investor.

Akibatnya, perdagangan di pasar saham NYSE pun memilih untuk melakukan perdagangan dengan kertas. Ribuan investor pun bergegas untuk menangani gelombang pasang penjualan yang terjadi, dan membuat pembukaan perdagangan tertunda 90 menit. Namun, perdagangan yang tertunda semakin mempersulit para investor.

Meluasnya penjualan dan keterlambatan dalam melaporkan harga berimbas lebih lanjut kepada opsi harga dari ekuitas. Dari 30 perusahaan yang sahamnya berada di Dow Jones, hampir setengahnya mengalami penurunan. Saham American Express kehilangan 26,2% pada Black Monday, Procter & Gamble anjlok 27,8%, dan Exxon Mobil jatuh 23,4%.

(Martin Bagya Kertiyasa)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya