Menurut Agusman, perlambatan pertumbuhan tersebut disebabkan oleh perlambatan pertumbuhan sektor kredit konstruksi terutama konstruksi perumahan menengah, besar, dan mewah. “Kredit konstruksi tumbuh lambat dari 22,1% menjadi 20,2%,” katanya.
Di samping itu, dia mengungkapkan, suku bunga kredit dan suku bunga simpanan berjangka mengalami penurunan yang mencerminkan pengaruh pelonggaran kebijakan moneter melalui transmisi suku bunga.
Dia menuturkan, rata-rata suku bunga kredit perbankan tercatat sebesar 11,6% turun 8 bps dari bulan sebelumnya yang mengikuti penurunan suku bunga BI 7 day reverse repo rate .
Demikian juga dengan suku bunga simpanan berjangka dengan tenor 1,3,6,12 dan 24 bulan masing-masing tercatat sebesar 6,09%, 6,46%, 6,8%, 6,99%, dan 6,91% turun dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 6,3%, 6,54%, 6,86%, 7,06% dan 6,94%.
Ke depan intermediasi perbankan diperkirakan membaik sejalan dengan berlanjutnya dampak penurunan suku bunga acuan dan pelonggaran kebijakan makroprudensial yang dilakukan sebelumnya oleh Bank Indonesia, serta kemajuan dalam konsolidasi perbankan dan korporasi.
Selain itu, pembiayaan perekonomian melalui pasar modal diharapkan juga membaik sejalan dengan langkah-langkah pendalaman pasar keuangan. “Bank Indonesia bersama otoritas terkait akan terus berkoordinasi untuk memastikan stabilitas sistem keuangan dapat tetap terjaga guna mendukung momentum pemulihan ekonomi,” pungkasnya.