IHSG Berpotensi Bangkit Jelang Pengumuman Hasil Pemilu

Koran SINDO, Jurnalis
Senin 20 Mei 2019 08:56 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (Ilustrasi: Shutterstock)
Share :

JAKARTA – Ketidakpastian pasar keuangan dunia yang meningkat dipengaruhi oleh eskalasi perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China, kembali memicu peralihan modal dari negara berkembang ke negara maju.

Kondisi tersebut menjadi sentimen negatif bagi pasar domestik seperti anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang meninggalkan level 6.000 ke level 5.826 pada pekan lalu.

Analis Binaartha Parama Sekuritas M Nafan Aji Gusta Utama mengungkapkan, berdasarkan daily pivot dari Bloomberg, support pertama maupun kedua memiliki range pada 5.790 hingga 5753. Sementara resistance pertama maupun kedua memiliki range level 5.900 hingga 5.973.

Berdasarkan indikator, Moving Average Convergence Divergence (MACD) masih berada di area negatif. Terlihat bahwa Stochastic dan Relative Strength Index (RSI) sudah menunjukkan oversold.

Baca Juga: Pekan Ini IHSG Anjlok 6,16%

“Di sisi lain, masih terlihat pola long black closing marubozu candle yang mengindikasikan adanya potensi bearish continuation pada pergerakan IHSG,” kata dia, kemarin. Nafan menuturkan, pelemahan IHSG pekan lalu terjadi karena masih minimnya sentimen positif dari domestik serta meningkatnya sentimen negatif dari perang dagang antara AS dan China.

Meski begitu, IHSG pekan ini berpeluang menuju ke area support. Adapun sejumlah rekomendasi saham yang bisa menjadi pertimbangan investor, antara lain BBTN, TLKM, dan WTON.

Direktur PT Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya memperkirakan, awal pekan jelang rilis resmi hasil re kapitulasi pascapesta demokrasi pemilu serta berakhir baik untuk kemenangan bersama, akan turut mendorong tingkat kenyamanan dari para investor untuk kembali masuk ke dalam pasar modal Indonesia.

“Sebagai salah satu wahana investasi, peluang kenaikan IHSG masih akan terlihat,” ujarnya. Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Yulianto Aji Sadono menambahkan, pergerakan data perdagangan BEI selama sepekan, untuk rata-rata volume transaksi harian mengalami kenaikan 1,43% menjadi 12,74 miliar unit saham dari 12,56 miliar unit saham pada pekan sebelumnya.

 

Kemudian untuk nilai kapitalisasi pasar juga mengalami perubahan 6,15% menjadi Rp6.629,63 triliun dari Rp7.064,09 triliun pada penutupan pekan lalu. “Rata-rata nilai transaksi harian BEI mengalami perubahan sebesar 14,38% menjadi Rp7,74 triliun dari Rp9,04 triliun pada pekan sebelumnya,” ungkapnya.

Sementara untuk rata-rata frekuensi transaksi harian BEI selama sepekan mengalami perubahan 0,29% menjadi 408,03 ribu kali transaksi dari 409,21 ribu kali transaksi pada pekan sebelumnya. Yulianto mengatakan, sepanjang tahun 2019 investor asing masih mencatatkan beli bersih sebesar Rp57,416 triliun.

Namun, pada Jumat (17/5), investor asing mencatatkan jual bersih sebesar Rp789,29 miliar. CEO Jagartha Advisors FX Iwan menilai, penurunan pada akhir pekan lalu ini disebabkan oleh faktor eksternal, yaitu meningkatnya kekhawatiran investor global terhadap perkembangan perang dagang China-Amerika dan juga meningkatnya tensi politik dalam negeri.

Namun, bagi investor reksa da na, si - tuasi ini bisa menjadi kesempatan baik untuk kembali memeriksa kembali portofolionya demi menentukan aset alokasi dan fund strategy yang tepat dalam pemilihan produk-produk reksa dana sesuai dengan karakteristik dan tujuan investasi investor.

“Bagi investor yang memiliki keterbatasan waktu dan informasi, pendampingan dari ahli sangat berperan untuk membantu kebutuhan di atas,” ungkap dia. Berdasarkan analisis dari Jagartha Advisors, momentum ini pada dasarnya bisa disikapi investor sesuai dengan profil risikonya.

Iwan menyatakan, target kinerja indeks sampai dengan akhir tahun masih atraktif sehingga penurunan pasar saat ini bisa dijadikan momen baik untuk melakukan pembelian secara bertahap.

“Bagi yang profil risikonya tinggi, momen ini justru perlu dimanfaatkan oleh investor untuk menambah kepemilikan reksa dana (dollar cost averaging). Namun, untuk investor konservatif dan cenderung menghindari risiko, opsi yang bisa dilakukan saat ini adalah melakukan penyesuaian portofolio dengan memberikan bobot lebih besar pada reksa dana pasar uang, dengan pilihan fund yang memiliki kinerja di atas 6% untuk periode satu tahun terakhir,” kata dia.

Ekonom Indef Bhima Yudhistira menuturkan, faktor yang membuat IHSG melemah sepekan terakhir di antaranya ketidakpastian global dan domestik berimplikasi pada peningkatan aksi jual bersih investor asing.

“Investor menghindari risiko dengan melakukan flight to quality ke aset yang aman salah satunya beli yen Jepang dan dolar AS. Yen menguat 0,3% dan dolar indeks naik 0,52%,” ujar Bhima.

Selain itu, pada kuartal II/2019 merupakan musim bagi-bagi dividen perusahaan domestik sehingga secara musiman investor asing yang mendapat dividen akan mentransfer dalam bentuk dolar dan dikirim ke negara asalnya. “Aliran modal keluar karena pembagian dividen turut melemahkan rupiah,” katanya.

(Kunthi Fahmar Sandy)

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya