JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2019 sebesar 5,05% (year on year/yoy). Realisasi ini lebih rendah dari realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal I-2019 yang sebesar 5,07% yoy.
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mengatakan, ada beberapa subsektor perekonomian yang mengalami perlambatan pertumbuhan pada kuartal II-2019. Salah satunya yakni subsektor transportasi dan pergudangan.
Baca juga: Indef Pertanyakan Pemilu dan Lebaran Tak Dongkrak Ekonomi RI Kuartal II-2019
"Jadi, transportasi udara pertumbuhannya turun menjadi sebesar -13,77% pada kuartal II 2019. Hal itu, jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun 2018 yang sebesar 9,58%" ujar dia di Hotel Aryaduta Jakarta, Rabu (7/8/2019).
Dia menuturkan anjloknya pertumbuhan transportasi udara, tercermin dengan merosotnya angka penumpang pesawat sepanjang semester pertama tahun ini. Tercatat sejak Januari-Juni 2019 jumlah penumpang pesawat rute domestik hanya mencapai 36,5 juta penumpang, padahal pada periode yang sama tahun sebelumnya mencapai 45,9 juta penumpang.
Baca juga: Ekonomi RI Melambat, Apa Strategi Sri Mulyani?
"Tiket masih jadi persoalan utama kita di kuartal II. Bahkan ada Lebaran dan sebagainya karena tiket masih mahal tidak menggerakkan sektor transportasi," tutur dia.
Dia menambahkan pemerintah perlu menjaga kebijakan-kebijakan ini sampai akhir tahun ini agar mampu memperbaiki sektor transportasi udara. Walaupun belum begitu terasa dampaknya, terlihat ada peningkatan jumlah penumpang pesawat pada Juni 2019 sebesar 33,55% dari bulan sebelumnya.
"Namun, kebijakan tersebut harusnya dipermanenkan sampai 6 bulan. Karena kalau nanti dicabut ekonomi belum normal akan berdampak lagi," pungkas dia.
(Fakhri Rezy)