JAKARTA - Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita membidik tiga perjanjian dagang rampung ditandatangani hingga akhir 2019, yakni Kemitraan Ekonomi Komprehensif Kawasan (Regional Comprehensive Economic Partnership/RCEP), Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Korea Selatan (IK-CEPA), dan Indonesia-Taiwan Economic Cooperation Framework Agreement (IT-ECA).
“Kita tidak mungkin kompetisi di ekspor dan investasi, kalau kita tertutup dan tidak ada perjanjian. Untuk itu, yang pasti kita harus kejar adalah berbagai perjanjian dagang,” kata Enggartiasto di Jakarta, Rabu (4/9/2019).
Baca Juga: Terlambat Jajaki Perjanjian Dagang, Pasar RI Kalah dari Malaysia-Vietnam
Enggartiasto menyampaikan beberapa tantangan terjadi dalam mencapai kesepakatan perjanjian RCEP yang beranggotakan 10 negara ASEAN, ditambah enam mitra perdagangan bebas ASEAN, yakni India, China, Jepang, Korsel, Australia, dan Selandia Baru.
Salah satunya adalah kesepakatan dalam butir-butir perjanjian yang perlu ditetapkan secara terperinci.
Baca Juga: IA-CEPA Diteken, Siapa yang Lebih Diuntungkan?
“Kalau kita perjanjian multilateral, apalagi Indonesia sebagai country coordinator, kita sebagai chief negotiator, kita bicara teksnya ini harus disepakati. Titik komanya, shall and should itu saja bisa membuat perdebatan antar negara,” ungkap Enggartiasto.
Kemudian, negara-negara tersebut saling menawarkan produk-produknya untuk dapat dikerjasamakan dan dibuka tarifnya.
“Dibicarakan jasanya apa. Kalau services buat saya tidak dibuka. Kemudian, sampai mana dibukanya, sampai angka berapa. Itu semua harus dinegosisasikan. Bukan sekadar tanda tangan, harus terperinci satu persatu,” ungkap Enggartiasto.
Sementara itu, Indonesia dan Korea Selatan menyepakati target penyelesaian perundingan IK-CEPA pada akhir 2019 dengan mengambil momentum Asean-Korea Commemorative Summit ke-30 di Korea Selatan. Demikian dikutip Antaranews.
“Hal itu sebagaimana telah dituangkan pada rencana kerja IK-CEPA," kata Enggartiasto.
Sedangkan, IT-CEA digenjot tahun ini karena adanya potensi ekspor yang sangat besar ke Taiwan. Taiwan diyakini akan berkontribusi sebagai penyedia bahan baku industri dalam negeri, di antaranya komponen, besi dan baja, timah, nikel dan aneka produk kimia lainnya.
(Dani Jumadil Akhir)