Sementara investor yang lebih spekulatif, yang berharap pada kenaikan harga saham yang tinggi, bisa memilih saham-saham second layer atau lapis kedua. Saham-saham ini memiliki harga yang relatif lebih rendah dan atau jumlah saham tercatat yang lebih sedikit. Perusahaan sudah cukup mapan tetapi masih banyak melakukan ekspansi usaha. Sehingga apabila perusahaan berhasil meningkatkan kinerja berkat ekspansi usahanya, maka harga saham bisa meningkat tinggi. Sebaliknya, jika ekspansi usaha tidak berhasil atau tidak sesuai ekspektasi, maka harga saham bisa menurun.
Masih ada lagi, saham-saham perusahaan lapis ketiga (third layer) yaitu perusahaan yang masih membukukan kerugian atau sudah untung tetapi masih dalam proses pengembangan usaha. Harga saham di kelompok ini relatif murah, bisa di bawah Rp100 per lembar, dengan jumlah saham yang juga masih sedikit. Harga saham lapis ketiga bisa naik sangat tinggi, jika perusahaannya berkembang, tetapi memiliki risiko kebangkrutan jika tidak berhasil dalam mengembangkan usahanya.
BEI membagi saham-saham yang tercatat di tiga papan perdagangan. Papan utama, papan pengembangan dan papan akselerasi. Masing-masing papan ini memiliki kriteria masing-masing. Isi sahamnya kurang lebih sama dengan pembagian istilah di atas. Yang terpenting, ketika investor memilih saham mana yang hendak dibeli, maka carilah perusahaan yang sektor usahanya paling dimengerti atau dipahami bisnisnya.
BEI membagi sektor usaha perusahaan ke dalam sembilan sektor usaha dan 99 sub sektor usaha. Sehingga investor bisa dengan mudah memilih saham-saham yang hendak dipilihnya dengan mencari di kategori sektor yang ada di data perdagangan saham BEI. (TIM BEI)
(Kurniasih Miftakhul Jannah)