Sebelumnya, langkah BI untuk menahan suku bunga acuan sudah diperkirakan oleh pasar. Kepala Ekonom BNI Ryan Kiryanto menyatakan, kebijakan BI menahan suku bunga acuan lantaran mempertimbangkan kecenderungan bank-bank sentral di dunia menahan suku bunga acuan.
Seperti Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reverse (The Fed) yang diperkirakan akan menahan suku bunga di level 1,5%-1,75% hingga akhir tahun 2020. Di sisi lain, kesepakatan perang dagang fase satu antara AS dan China, tekanan Brexit yang menurun, serta risiko geopolitik yang juga mereda.
"Kondisi itu turut memberikan pijakan bagi bank-bank sentral untuk tidak mengubah arah kebijakan suku bunga acuannya," kata Ryan kepada Okezone.
Sementara dari faktor domestik, arah perkembangan ekonomi dalam negeri masih on the right track yakni ekonomi diperkirakan mampu tumbuh 5,04% di 2019 dengan outlook 5,1-5,3% di 2020. Inflasi terjaga baik di level 2,72% pada 2019 dan berkisar 3% pada proyeksi 2020.
Di samping itu, persepsi investor asing masih optimistis dengan outlook perekonomian yg tumbuh stabil di kisaran 5%, di saat sejumlah negara mengalami koreksi ke bawah. "Kebijakan moneter dan fiskal juga sinkron dan akomodatif (counter cyclical atau dovish) untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi, serta kondisi politik dan keamanan dalam negeri relatif stabil," jelasnya.
(Dani Jumadil Akhir)