JAKARTA - Pemerintah memprediksi ekonomi Indonesia 2020 akan berada di 2,3% bahkan minus 0,4%. Hal ini akan berdampak pada rumah tangga, UMKM, Korporasi dan sektor keuangan.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, sektor Rumah tangga akan terkena dampaknya cukup besar. Hal ini dikarenakan konsumsi tidak lagi melakukan aktivitas.
Baca juga: Sri Mulyani: Skenario Terburuk, Ekonomi Bisa Tumbuh Minus 0,4%
"Maka konsumsi menurun cukup tajam," ujarnya dalam telekonferensi, Jakarta, Rabu (1/4/2020).
Sementara itu, lanjutnya, UMKM tidak dapat melakukan kegiatan usahanya. Padahal ini harusnya menjadi safety net tapi mengalami dampak yang cukup besar.
Baca juga: Stimulus untuk Dunia Usaha, Penghapusan Pph 21 hingga Keringanan KUR
"Karena adanya restriksi kegiatan ekonomi dan sosial yang mempengaruhi kemampuan UMKM yang biasanya secara bisa mengatasi kondisi," ujarnya.
Kemudian sektor korporasi, lanjutnya, akan mengalami gangguan aktivitas dalam perekonomian. Hal ini dikarenakan menurunnya kinerja bisnis.
"taddi ari supply chain, terus masuk keperdagangan, dan tentu dari sisi aktivitas dan revenu baik domestik dan ekspornya," ujarnya.
Pelemahan Korporasi, lanjutnya akan berdampak ke sektor keuangan. Perbankan dan perusahaan pembiayaan berpotensi mengalami persoalan likuiditas dan insolvency.
Di mana, peningkatan NPL atau langkah-langkah utuh membuat koorporasi pinjaman tetap mengalir, agar kredit tidak ditutup agar ekonomi tak macet," ujarnya.
(Fakhri Rezy)