JAKARTA - Wall Street anjlok dua hari berturut-turut pada penutupan perdagangan Selasa waktu setempat terseret jatuhnya harga minyak AS dan diperkirakan suramnya pendapatan perusahaan pada kuartak I sehingga memperburuk kekhawatiran perlambatan ekonomi yang dalam.
Melansir Reuters, Jakarta, Rabu (22/4/2020), indeks Dow Jones Industrial Average turun 2,67% menjadi berakhir pada 23.018,88, indeks S&P 500 turun 3,07% menjadi 2.736,57 dan indeks Nasdaq Composite turun 3,48% menjadi 8.223,23
11 indeks sektor S&P 500 turun 1,6% atau lebih dengan sektor energi terjun bebas untuk ketujuh kalinya dalam delapan sesi sehari setelah kontrak minyak WTI CLc1 jatuh ke level USD0 bahkan minus karena pedagang minyak kehabisan penyimpanan untuk pengiriman Mei.
Dengan runtuhnya kontrak berjangka Juni, investor ekuitas menjadi waspada terhadap tingkat kerusakan ekonomi akibat langkah-langkah penutupan yang telah menghentikan aktivitas bisnis dan memicu jutaan PHK.
Sementara itu, indeks teknologi informasi S&P merosot 4,1%, sedangkan indeks keuangan turun 3,2%. Setelah banyak perusahaan menarik ramalan mereka karena ketidakpastian terkait dengan virus corona atau coronavirus. Investor akan fokus pada laporan kuartal pertama yang diprediksi melemah akibat pandemi Covid-19 sehingga melukai perusahaan-perusahaan AS.
Sementara itu, Indeks acuan S&P 500 telah naik lebih dari 20% dari level terendahnya di bulan Maret, didukung stimulus triliunan dolar tetapi masih hampir 20% di bawah rekor tertinggi di bulan Februari karena kekhawatiran akan kerusakan ekonomi yang disebabkan oleh virus corona.
"Apa yang Anda lihat adalah menarik kembali di daerah yang telah melakukan dengan baik, dan mengambil keuntungan selagi Anda bisa," kata Quincy Krosby, ahli strategi pasar di Prudential Financial di Newark, New Jersey.
"Pertanyaannya adalah apakah ini konsolidasi setelah pasar berlari begitu cepat, atau apakah ini awal dari kemunduran yang lebih penting di pasar secara keseluruhan?"
Klaim pengangguran di AS mencapai 22 juta pada bulan lalu karena perusahaan meluncurkan langkah-langkah penghematan biaya yang dramatis untuk mengatasi kemerosotan, dan pembacaan survei aktivitas bisnis AS yang pada hari Kamis, kemungkinan akan anjlok ke posisi terendah era resesi.
(Dani Jumadil Akhir)