JAKARTA - Harga emas sedikit menguat pada akhir perdagangan 2020 (Jumat pagi WIB). Hal ini memperpanjang kenaikan untuk hari ketiga berturut-turut, seiring berlanjutnya pelemahan dolar AS terhadap mata uang utama lainnya.
Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Februari di divisi COMEX New York Exchange naik tipis USD1,7 atau 0,09% ditutup pada level USD1.895,10 per ounce. Emas berjangka juga terangkat USD10,50 atau 0,56% menjadi USD1.893,40.
Baca Juga: Harga Emas Makin Murah, Dibanderol Rp965.000/Gram
Emas berada di tahun terbaiknya dalam satu dekade karena ketidakpastian ekonomi serta bank-bank sentral global dan pemerintah-pemerintah memberikan stimulus ekonomi besar-besaran untuk mengurangi dampak pandemi Covid-19, meletakkan dasar untuk inflasi yang lebih tinggi dan penurunan nilai mata uang.
Kepala Perdagangan Derivatif Logam Dasar dan Logam Mulia BMO, Tai Wong mengatakan, Federal Reserve AS atau bank sentral AS akan tetap sangat akomodatif hingga 2022 dan Partai Demokrat yang semakin progresif ingin meminjam dan membelanjakan uang secara agresif.
Baca Juga: Harga Emas Berjangka Rebound
"Berdasarkan itu, dolar AS telah merosot dengan buruk dan tidak dapat mengelola reli apa pun, yang merupakan bullish bagi emas," katanya, dikutip dari Antara, Jumat (1/1/2021).
“Namun, jika vaksin benar-benar efektif dan kami menghadapi pandemi pada musim panas, itu mungkin membatasi kenaikan emas,” ujarnya.