JAKARTA - Pemerintah Indonesia telah melaksanakan proses vaksinasi sejak 13 Januari 2021 lalu. PT Bio Farma selaku BUMN yang bergerak di bidang farmasi dipercaya untuk mengurus proses pendistribusiannya.
Tak hanya itu, perusahaan pelat merah itu pun juga harus memproduksi vaksin. Bio Farma bekerja sama dengan Sinovac, China akan membuat vaksin secara masal untuk kebutuhan di dalam negeri.
Baca juga: 2021, Bio Farma Kebut Produksi 125 Juta Dosis Vaksin Covid-19
Sebanyak 15 juta vaksin buatan PT Bio Farma akan mulai didistribusikan pada Februari 2021 mendatang. Hal itu mengingat sejak 14 Januari lalu telah memproduksi vaksin setengah jadi kiriman dari negeri tirai bambu tersebut.
"Target kita Februari sudah ready," kata Head of Corporate Communication PT Bio Farma (Persero) Iwan Setiawan kepada Okezone, Sabtu 16 Januari 2021.
Baca juga: 15 Juta Vaksin Bio Farma Siap Digunakan Februari 2021
Dia mengaku menargetkan pada tahun 2021 ini akan menyelesaikan produksi 125 juta dosis vaksin Covid-19. Hal ini merupakan salah satu upaya salah satu perusahaan pelat merah itu dalam mengurangi penyebaran wabah tersebut.
"Produksi Bio Farma (2021) 125 juta dosis," kata Iwan.
Iwan menjelaskan, kebutuhan nasional dalam program vaksinasi itu dibutuhkan vaksin sebanyak 426,8 juta dosis.
"Sementara kebutuhan nasional sekitar 426,8 juta dosis," ujarnya.
Sementara itu, Direktur Utama PT Bio Farma (Persero) Honesti Basyir mengatakan, pihaknya memiliki tiga strategi untuk memenuhi kebutuhan vaksin di Indonesia. Pertama, strategi jangka pendek dengan mengimpor produk jadi vaksin dari sejumlah manufaktur seperti Sinovac, Serum Institute of India, AstraZeneca-SiamBio, Pfizer, dan Covax.
"Kita lakukan impor terhadap produk jadi. Itu yang pertama kali kita lakukan dengan Sinovac dan sudah dapat 3 juta dosis yang diprioritaskan untuk tenaga kesehatan," ujarnya dalam webinar, Sabtu (16/1/2021).
PT Bio Farma pun juga melakukan pengembangan vaksin asal dalam negeri yang bernama merah putih. Namun, manajemen mengakui, produksi vaksin Merah Putih belum bisa diselesaikan sepanjang tahun 2021.
Produksi vaksin sendiri ditargetkan akan dilakukan pada kuartal III tahun ini. Dengan begitu, vaksin Merah Putih tidak masuk dalam program vaksinasi pemerintah untuk periode 2021.
"Dan prosesnya, diskusi kami dengan lembaga-lembaga penelitian, memang timeline-nya vaksin tidak bisa selesai di tahun 2021. Sehingga vaksin merah putih tidak bisa masuk di program supply kita untuk penanganan Covid di tahun 2021," kata Direktur Utama PT Bio Farma (Persero) Honesti Basyir.
Saat ini vaksin Covid-19 tersebut masih dikembangkan oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dan sejumlah perguruan tinggi dalam negeri. Di mana, progresnya telah mencapai 60 persen dan direncanakan pada Maret tahun ini, bibit vaksin akan diserahkan kepada Bio Farma untuk ditindaklanjuti.
Dalam kesempatan berbeda, Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro mengatakan Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman merupakan pengembang vaksin Merah Putih dengan perkembangan yang paling cepat.
"LBM Eijkman diperkirakan bisa menghasilkan bibit vaksin dan menyerahkannya kepada PT Bio Farma Maret 2021," kata Bambang dalam rapat kerja bersama Komisi VII DPR yang diikuti melalui siaran langsung akun Youtube Komisi VII DPR.
Bambang mengatakan setelah bibit vaksin diserahkan kepada PT Bio Farma, rangkaian proses uji klinis dan produksi sepenuhnya bergantung pada badan usaha milik negara (BUMN) farmasi tersebut dengan pengawasan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Selain LBM Eijkman, lembaga lain yang juga mengembangkan vaksin Merah Putih adalah Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, Institut Teknologi Bandung, dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
(Fakhri Rezy)