Beban Usaha Turun, Laba BEI Naik 8,9% Jadi Rp489,3 Miliar

, Jurnalis
Rabu 17 Maret 2021 12:20 WIB
BEI (Okezone)
Share :

JAKARTA - Sepanjang tahun 2020, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) membukukan kenaikan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk 8,92% menjadi Rp489,38 miliar dari sebelumnya Rp449,31 miliar. Pertumbuhan laba tersebut sejalan dengan perolehan total pendapatan yang dibukukan oleh BEI senilai Rp1,92 triliun.

Mengutip Neraca, jumlah pendapatan tersebut meningkat 0,62% dibandingkan dengan Rp1,91 triliun pada 2019. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam laporan keuangan yang dipublikasikan di Jakarta.

 Baca juga: Disuspensi karena Harga Saham Naik Tak Wajar, Ini Pembelaan AIMS

Sebaliknya, beban yang dikeluarkan hanya turun 3,19% secara yoy menjadi Rp1,28 triliun. BEI menyebutkan, pendapatan usaha terkait transaksi bursa Rp1,55 triliun pada 2020. Pencapaian naik 3,98% dari Rp1,33 triliun pada tahun 2019.

Pendapatan dari jasa transaksi dan jasa kliring sebagai dua kontributor terbesar pendapatan BEI, masing-masing Rp792,36 miliar dan Rp400,44 miliar. Kendati demikian, pendapatan dari segmen jasa informasi serta fasilitas lainnya melonjak 54,38% secara year on year (yoy) menuju Rp144,88 miliar dari sebelumnya Rp93,84 miliar.

 Baca juga: Emiten Delisting Wajib Beli Semua Sahamnya di Publik

Di sisi lain, pendapatan usaha dari bukan transaksi bursa tercatat senilai Rp77,5 miliar pada 2020. Realisasi itu naik 12,24% dari Rp69,05 miliar pada tahun lalu. Sementara itu, total aset BEI sejumlah Rp8,84 triliun per Desember 2020, naik dari akhir 2019 sebesar Rp7,2 triliun. Aset tersebut berasal dari ekuitas dan liabilitas masing-masing senilai Rp5,11 triliun dan Rp3,73 triliun.

Tahun ini, BEI menargetkan rata-rata transaksi harian atau RNTH bursa mencapai Rp8,8 triliun. Direktur Utama BEI, Inarno Djajadi pernah bilang, pihaknya telah menyampaikan Rencana Kerja Anggaran Tahunan (RKAT) 2021 kepada Otoritas Jasa Keuangan.

“Kami sampaikan RKAT 2021 itu [RNTH] mencapai Rp8,8 triliun. Kami optimistis itu tercapai,” ujar Inarno.

Adapun, target tersebut sesungguhnya lebih rendah daripada pencapaian tahun ini. BEI mencatat RNTH hingga 29 Desember 2020 mencapai Rp9,18 triliun. Selain itu, BEI juga menargetkan jumlah perusahaan tercatat yang melakukan penawaran saham perdana atau initial public offering/IPO pada 2021 hanya sebesar 30 perusahaan.

Lagi-lagi, target tersebut lebih rendah dibandingkan dengan jumlah perusahaan yang melantai bursa sepanjang 2020, yaitu sebesar 51 perusahaan tercatat. Padahal, realisasi tersebut mengantarkan Indonesia menjadi bursa dengan jumlah IPO terbanyak di Asia Tenggara. Tak hanya itu, jumlah IPO di bursa Indonesia sepanjang 2020 menduduki posisi terbanyak ke-6 di dunia.

Indonesia mengekor bursa Shanghai (180), Nasdaq (119), Shenzhen (115), Hong Kong (99) IPO, dan Jepang (54). Kendati target tersebut lebih rendah, Inarno mengaku pihaknya memiliki ruang untuk melakukan peninjauan ulang dan merevisi RKAT tersebut kepada OJK tahun depan.

“Jangan khawatir, kami akan mereview gradually dan melihat perkembangan bulan ke bulan apakah target ini relevan atau kami bisa tingkatab. Kami bisa revisi kembali RKAT,” papar Inarno.

(Fakhri Rezy)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya