JAKARTA - Mata uang Thailand, baht, tahun ini menjadi mata uang yang paling terpukul di kawasan Asia.
Padahal, baht pernah mencatat performa terkuat sebelum pandemi Covid-19 terjadi. Namun, Refinitiv, penyedia data dan infrastruktur pasar keuangan global mencatat, baht turun lebih dari 10% terhadap USD tahun ini.
Sementara mata uang negara Asia lain seperti yen Jepang, ringgit Malaysia, dan dolar Australia masing-masing turun sebanyak 7%, 5%, dan 4,43% terhadap dolar AS pada 2021 ini.
Baca Juga: 10 Negara ASEAN dan Profil Terlengkap, 5 di Antaranya Adalah Pendiri
Mengapa Hal Ini Bisa Terjadi?
Selama beberapa waktu terakhir, terjadi penurunan tajam terhadap pariwisata Thailand. Vishnu Varathan, Kepala Ekonomi dan Strategi Bank Mizuho memaparkan, negara tersebut hanya menerima 34 ribu kunjungan wisatawan pada Mei lalu, sedangkan pada 2019 bisa menerima lebih dari 39 juta kunjungan. Hal ini berdampak pada perekonomian negara.
Pada dasarnya, negara di Asia Tenggara sangat bergantung pada dolar milik wisatawan untuk pertumbuhan ekonomi. Pada 2019, wisatawan menyumbang sekitar 11% dari Produk Domestik bruto (PDB) Thailand.
Vishnu Varathan juga mengatakan, penurunan kinerja mata uang di Asia tidak dapat sepenuhnya menyalahkan Covid-19. Pasalnya, ada tempat yang menerima dampak varian Delta dengan jauh lebih buruk.
Baca Juga: Jadi Korban Tabrak Lari, Anak Gajah Kesasar Mati Mengenaskan di Jalan
Tantangan yang Dihadapi Thailand
Ketergantungan Thailand akan pariwisata bisa menjadi tantangan bagi negara itu untuk membuka kembali pariwisata sambil memerangi Covid-19. Hal ini disampaikan Kepala Ekonom ASEAN, Nomura Euben Paracuelles.
Dilaporkan, Thailand sempat menggunakan skema ketika wisatawan dapat berlibur tanpa dikarantina pada Juli lalu. Sayangnya, tercatat satu kasus positif pada wisatawan dari Uni Emirat Arab (UEA), hanya dalam seminggu setelah peraturan tersebut diterapkan.