JAKARTA – Ekonomi Indonesia berhasil keluar dari zona resesi. Adapun sejak kuartal II-2020 lalu, pertumbuhan ekonomi Indonesia terus berada di zona negatif.
Hal ini disebabkan pandemi Covid-19 yang telah melanda Indonesia dan dunia sejak awal 2020. Pandemi covid-19 membuat berbagai sektor penggerak ekonomi menjadi terhambat.
Akan tetapi, pemerintah terus berupaya semaksimal mungkin mencari jalan keluar optimal untuk menangani pandemi Covid-19 yakni dengan strategi mempertahankan keseimbangan antara penanggulangan Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional. Seiring dengan berjalannya waktu, strategi ini terbukti memperoleh hasil relatif baik.
Baca Juga: BI Yakinkan Investor China soal Ekonomi RI Tumbuh 5% di 2022
“Persentase kasus aktif Indonesia sampai dengan 1 September 2021 tercatat turun -57,73% sejak penerapan PPKM leveling 9 Agustus 2021 lalu. Sementara itu, kondisi kesembuhan juga menunjukkan angka yang baik, yaitu 92,12% dibandingkan global 89,41%, meskipun kita masih perlu memperbaiki untuk tingkat kematian nasional yang masih lebih tinggi dari rata-rata global, yaitu 3,26 % dibanding global 2,07%,” ujar Menko Perekonomian Airlangga Hartarto.
Indonesia pun turun kelas menjadi negara berpenghasilan menengah ke bawah. Penyebabnya, karena pandemi Covid-19 dan resesi yang belum teratasi.
Baca Juga: Ramalan IMF hingga World Bank soal Ekonomi Indonesia 2022, seperti Apa?
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2021 masih terkontraksi, yaitu berada di angka -0,74% secara year on year (yoy). Kondisi ini tentunya belum bisa membawa Indonesia keluar dari zona resesi.
Sementara, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2021 diproyeksi mencapai 6,4%. Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memprediksikan estimasi ekonomi RI di kisaran 6,2% sampai 6,7%.
“Kami memperkirakan Indonesia akan keluar dari resesi pada kuartal II-2021,” kata Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky.