"Kami benar-benar memecat mitra yang tidak berwenang masuk ke toko setelah jam kerja atau melanggar kebijakan seperti membiarkan orang lain menangani uang tunai di brankas ketika tidak diizinkan untuk melakukannya. Ini adalah kebijakan umum yang dipahami oleh para mitra karena membawa elemen keselamatan dan risiko keamanan," katanya.
Tapi, dua karyawan yang sudah diberhentikan itu malah mengklaim kalau pelanggaran yang dituduhkan ke mereka tidak benar.
Bagi mereka, semua hal yang dilakukan karyawan itu masih dalam tahap SOP toko.
Seorang mantan pekerja bernama, Beto Sanchez, yang mendapat tuduhan membuka brankas ikut bersuara.
Dia menyebut kalau tanggung jawab pekerjaannya adalah supervisor shift, sehingga pengecekan brankas masuk dalam bagian kerja tersebut.
Dia masih bertanya-tanya mengapa langsung dipecat tanpa adanya sanksi lain dulu.
Starbucks Workers United, serikat pekerja yang mewakili pekerja di dua toko di Buffalo dan yang membantu menyatukan pekerja Starbucks di seluruh negeri, mengajukan tuntutan atas ketidakadilan terkait pemecatan ini.
“Starbucks memilih secara selektif untuk menegakkan kebijakan yang sebelumnya telah secara konsisten ditegakkan sebagai dalih untuk memecat para pemimpin serikat pekerja," ucap Beto.
Sebagai informasi, seorang hakim untuk Dewan Hubungan Perburuhan Nasional menemukan bahwa Starbucks pada tahun 2019 dan 2020 telah mendisiplinkan secara tidak sah dan memecat dua karyawan yang ingin mendirikan sebuah toko di Philadelphia.
Tapi Starbucks telah mengajukan banding atas putusan tersebut.
Dewan perburuhan di bawah Presiden Barack Obama Wilma Liebman pun ikut menanggapi kalau pemecatan tersebut tidak adil.
(Dani Jumadil Akhir)