Ekonomi Indonesia Bisa Tumbuh 5,5% Tahun Ini di Tengah Omicron dan Perang Rusia-Ukraina

Athika Rahma, Jurnalis
Kamis 17 Maret 2022 14:59 WIB
BI optimis ekonomi Indonesia bisa tumbuh 5,5% tahun ini. (Foto: Okezone)
Share :

JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo optimis ekonomi Indonesia masih akan tumbuh 5,5 persen di tengah penyebaran varian Omicron Covid-19 dan ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina.

Menurutnya, prakiraan pertumbuhan ekonomi tersebut ditopang oleh perbaikan konsumsi rumah tangga dan investasi nonbangunan serta tetap positifnya pertumbuhan konsumsi pemerintah.

"Di sisi eksternal, kinerja ekspor diprakirakan tetap baik, meskipun tidak setinggi pertumbuhan pada triwulan sebelumnya, seiring dampak geopolitik dan tertahannya aktivitas perdagangan global," ungkap Perry dalam jumpa pers virtual, Kamis (17/3/2022).

 BACA JUGA:Bank Indonesia-Central Bank of the United Arab Emirates Teken Perjanjian Kerjasama

Dia mengakatan, secara spasial ekspor yang tetap kuat terjadi di wilayah Jawa, Sulawesi-Maluku-Papua, dan Bali-Nusa Tenggara.

Sejumlah indikator ekonomi hingga awal Maret 2022 tercatat tetap baik, seperti penjualan eceran, keyakinan konsumen, penjualan semen, dan mobilitas masyarakat di berbagai daerah.

Ke depan, kinerja ekonomi diprakirakan tetap baik ditopang oleh akselerasi vaksinasi, kebijakan persyaratan perjalanan yang lebih longgar, pembukaan ekonomi yang semakin meluas, serta berlanjutnya stimulus kebijakan Bank Indonesia, Pemerintah, dan otoritas terkait lainnya.

"Dengan perkembangan itu, pertumbuhan ekonomi pada 2022 diprakirakan tetap berada dalam kisaran 4,7-5,5%," tandasnya.

Sebagai informasi, BI pun telah kembali mempertahankan suku bungan acuan. Hal ini disampaikan Gubernur BI Perry Warjiyo berdasarkan Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dilakukan pada 16-17 Maret 2022.

"Memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 3,5%, suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25%," ungkapnya.

 BACA JUGA:Data Bank Indonesia Diduga Bocor, Disebut Jadi Korban Geng Conti Ransomware

Dia melanjutkan, keputusan ini sejalan dengan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan terkendalinya inflasi serta untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tekanan eksternal yang meningkat, terutama terkait ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina.

BI pun terus mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas dan mendukung pemulihan ekonomi lebih lanjut melalui sejumlah langkah.

"Pertama, memperkuat kebijakan nilai tukar rupiah untuk menjaga stabilitas nilai tukar yang sejalan dengan mekanisme pasar dan fundamental ekonomi," ujarnya.

Kedua, melanjutkan kebijakan transparansi suku bunga dasar kredit (SBDK) dengan pendalaman pada perkembangan komponen SBDK secara granular dan faktor yang mempengaruhinya.

Ketiga, memastikan kecukupan uang, distribusi uang dan layanan kas dalam menyambut ramadhan dan hari raya Idul Fitri 2022.

"Keempat, mendorong kesiapan penyedia jasa pembayaran dalam rangka implementasi SNAP guna dukung interlink antara perbankan dan fintech," bebernya.

Kelima, memperkuat kerjasama dengan bank sentral dan otoritas negara mitra lain bersama Kemenkeu mensukseskan enam agenda keuangan Presidensi G20.

(Zuhirna Wulan Dilla)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya